My Menu :

Klik 'Others' untuk mendownload konten-konten keren

Kamis, 21 Januari 2010

tugas


INISIASI 3
PENDEKATAN PEMBELAJARAN BAHASA
INDONESIA SD YANG INOVATIF

Saudara, marilah kita ingat kembali materi yang disajikan dalam iniasi
pertama, yaitu Prinsip-Prinsip Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD. Salah satu
materi itu telah kita bicarakan, yaitu Prinsip Pembelajaran Kontekstual. Pada materi
ini prinsip tersebut tidak akan dibicarakan lagi, tetapi hanya prinsip komunikatif.
Prinsip komunikatif ini tidak asing lagi bagi guru bahasa Indonesia
Saudara, pada kesempatan ini kita akan membahas pendekatan komunikatif lebih
detail lagi. Pendekatan ini mengajak siswa untuk berlatih berbahasa. Oleh karena itu,
materi ini sangat perlu diketahui oleh seorang guru bahasa Indonesia. Jika konsep-
konsep ini benar-benar dipahami dan dikuasai, tentu Anda akan dapat
menerapkannya dengan baik yang pada gilirannya tujuan pembelajaran Bahasa
Indonesia akan tercapai..
Setelah mempelajari inisiasi 3 ini, diharapkan Saudara memiliki kemampuan
memberikan contoh model pendekatan komunikatif dalam pembelajaran
keterampilan berbahasa.
Untuk mencapai kompetensi yang diharapkan, maka dalam inisiasi ini
Saudara akan disajikan ”Pendekatan Komunikatif” (konsep, ciri, pemilihan materi,
kegiatan belajar-mengajar)

Konsep Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang berlandaskan pada
pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi
merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Di dalam konsep
pendekatan komunikatif terdapat konsep kompetensi komunikatif yang
membedakan komponen bahasa menjadi dua bagian, yaitu kompetensi dan
performansi atau unjuk kerja.
Kompetensi komunikatif itu adalah keterkaitan dan interelasi antara
kompetensi gramatikal atau pengetahuan kaidah-kaidah bahasa dengan kompetensi
sosiolinguistik atau atauran-aturan tentang penggunaan bahasa yang sesuai dengan
kultur masyarakat. Kompetensi komunikatif hendaknya dibedakan dengan
perforemansi komunikatif karena performansi komunikatif mengacu pada realisasi
kompetensi kebahasaan beserta interaksinya dalam pemroduksian secara actual
Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD 1 dengan pemahaman terhadap terhadap tuturan-tuturan. Oleh sebab itu, seseorang
yang dikatakan memiliki kompetensi dan performansi berbahasa yang baik
hendaknya mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang dipelajarinya,
baik dalam pemroduksian (berbicara dan menulis/mengarang) maupun dalam
pemahaman (membaca dan menyimak/mendengarkan).

Ciri-ciri Pendekatan Pembelajaran Komunikatif
Brumfit dan Finocchiaro mengungkapkan cirri-ciri pendekatan komunikatif
adalah (1) makna merupakan yang terpenting, (2) percakapan harus berpusat di
sekitar fungsi komunikatif dan tidak dihafalkan secara normal, (3) kontekstualisasi
merupakan premis pertama, (4) belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi, (5)
komunikasi efektif dianjurkan, (6) latihan penubihan atau drill diperbolehkan, tetapi
tidak memberatkan, (7) ucapan yang dapat dipahami diutamakan, (8) setiap alat
bantu peserta didik diterima dengan baik, (9) segala upaya untuk berkomunikasi
dapat didorong sejak awal, (10) penggunaan bahasa secara bijaksana dapat diterima
bila memang layak, (11) terjemahan digunakan jika diperlukan peserta didik, (12)
membaca dan menulis dapat dimulai sejak awal, (13) sistem bahasa dipelajari
melalui kegiatan berkomunikasi, (14) komunikasi komunikatif merupakan tujuan,
(15) variasi linguistic merupakan konsep inti dalam materi dan metodologi, (16)
urutan ditentukan berdasarkan pertimbangan isi, fungsi, atau makna untuk
memperkuat minat belajar, (17) guru mendorong peserta didik agar dapat bekerja
sama dengan menggunakan bahasa itu, (18) bahasa diciptakan oleh peserta didik
melalui mencoba dan mencoba, (19) kefasihan dan bahasa yang berterima
merupakan tujuan utama, ketepatan dinilai dalam konteks bukan dalam keabstrakan,
(20)peserta didik diharapkan berinteraksi dengan orang lain melalui kelompok atau
pasangan, lisan dan tulis, (21) guru tidak bisa meramal bahasa apa yang akan
digunakan peserta didinya, dan (22) motivasi intrinksik akan timbul melalui minat
terhadap hal-hal yang dikomunikasikan.

Peran Peserta Didik dalam Proses Belajara-Mengajar
Robin dan Thompson 1) mengemukakan bahwa cirri-ciri peserta didik yang
sesuai dengan konsep pendekatan komunikatif adalah: (1) selalu berkeinginan untuk
menafsirkan tuturan secara tepat, (2) berkeinginan agar bahasa yang digunakan selalu
komunikatif, (3) tidak merasa malu jika berbuat kesalahan dalam berkomunikasi, (4)
selalu menyesuaikan bentuk dan makna dalam berkomunikasi, (5) frekuensi latihan
berbahasa lebih tinggi, dan (6) selalu memantau ujaran sendiri dan ujaran mitra
2 Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD bicaranya untuk mengetahui apakah pola-pola bahasa yang diucapkan tersebut dapat
diterima dan dipahami oleh masyarakat.

Peran Guru dalam Proses Belajar-Mengajar
Dua peran guru dalam proses belajar-mengajar, yaitu (1) pemberi kemudahan
dalam proses komunikasi antara semua peserta didik dalam kelas, antara peserta
didik dengan kegiatan pembelajaran, serta teks atau materi, dan (2) sebagai partisipan
mandiri dalam kelompok belajar-mengajar.
Implikasi dari kedua peran di atas menimbulkan peran-peran kecil lainnya,
yaitu peran sebagai pengorganisasi, pembimbing, peneliti, dan pembelajar dalam
proses belajar-mengajar.

Peran Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran dipersiapkan setelah guru mengadakan suatu analisis
kebutuhab peserta didik. Keanekaragaman kebutuhan peserta didik ini ditampung
guru dan dipertimbangkan dalam mempersiapkan materi pembelajaran. Implikasi
dari keadaan ini adalah aktivitas peserta didik dalam kelas berorientasi pada peserta
didik.
Kedudukan materi pembelajaran ditekankan pada sesuatu yang menunjang
komunikasi peserta didik secara aktif. Ada tiga jenis materi yang perlu
dipertimbangakn, yaitu (1) materi yang berdasarkan teks, (2) materi yang
berdasarkan tugas, dan (3) materi yang berdasarkan bahan yang otentik.

Metodologi Pembelajaran Bahasa Berdasarkan Pendekatan Komunikatif
Tarigan mengungkapkan bahwa metode-metode pembelajaran bahasa
komunikatif dilandasi oleh teori pembelajaran yang mengacu pada dua prinsip, yaitu
prinsip komunikasi, kegiatan-kegiatan yang melibatkan komunikasi nyata mampu
mengembangkan proses pembelajaran, (2) prinsip tugas, kegiatan-kegiatan-kegiatan
tempat dipakainya bahasa untuk melaksanakan tugas-tugas yang bermakna dapat
mengembangkan proses pembelajaran. Berdasarkan prinsip tersebut, materi
pembelajaran bahasa hendaknya dapat diterapkan melalui metode permainan,
simulasi, bermain peran, dan komunikasi pasangan. Bagaimana Saudara mudah
bukan? Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan strategi-strategi itu sudah
sering Saudara lakukan!
Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD 3 Latihan
Saudara, uraian di atas diharapkan dapat memberikan pengetahuan strategi
dalam keterampilan berbahasa. Untuk lebih memperdalam wawasan, Saudara
diharapkan dapat membaca buku bahan ajar cetak pada unit 4. Selain itu, untuk
mengetahui pemahaman Saudara tentang materi yang telah disajikan jawablah
pertanyaan berikut ini!
1. Buatlah sebuah contoh pembelajaran keterampilan berbicara dengan
menggunakan pendekatan komunikatif!

Saudara Mahasiswa, setelah selesai mengerjakan latihan tersebut, segera kirimkan
melalui email kepada tutor online Anda. Umpan balik akan dapat Anda terima paling
lambat 2 minggu setelah batas akhir pengiriman. Jangan segan untuk menghubungi
tutor online Saudara jika mengalami kesulitan.

Selamat mengerjakan dan semoga sukses


4 Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD


(http://budimeeong.files.wordpress.com/2008/05/inisiasi_pembelajaran_bahasa_indonesia_sd_3.pdf)










INISIASI 2
TEKNIK (STRATEGI) PEMBELAJARAN BAHASA
INDONESIA SD


Saudara, perjumpaan kita kali ini akan membicarakan “Teknik (Strategi)
Pembelajaran Bahasa Indonesia”. Materi ini merupakan lanjutan dari inisiasi yang
terdahulu. Materi ini sangat penting bagi Saudara. Dengan mengetahui dan
menguasai materi ini Saudara dapat menciptakan berbagai teknik pembelajaran
sehingga kualitas proses dan hasil pembelajaran dapat meningkat. Kompetensi dasar
yang ingin dicapai adalah mahasiswa dapat memberikan contoh berbagai teknik
pembelajaran bahasa Indonesia di SD.
Untuk membantu Saudara mencapai kompetensi itu, materi ini dibagi
menjadi dua subunit, yaitu:
!) Strategi pembelajaran bahasa lisan dan penerapannya melalui kegiatan
bercerita dan dramatisasi dan
2) Strategi pembelajaran bahasa tulis.

Strategi Pembelajaran Bahasa Lisan dan Penerapannya melalui Kegiatan
Bercerita dan Dramatisasi

Saudara, strategi dan teknik dalam proses pembelajaran merupakan dua
istilah yang sering digunakan oleh guru . Strategi merupakan rencana yang cermat
mengenai suatu kegiatan untuk mencapai sasaran khusus, sedangkan siasat
merupakan siasat yang dilakukan guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar untuk dapat memperoleh hasil yang optimal.
Di dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan
berbahasa yang menjadi sasaran pokok, yaitu menyimak, berbicara, menuli, dan
membaca. Keterampilan menyimak dan berbicara dikategorikan dalam
keterampilan berbahasa lisan, sedangkan keterampilan menulis dan membaca
dikategorikan dalam keterampilan berbahasa tulis.
Menyimak dan berbicara merupakan keterampilan berbahasa lisan yang amat
fungsional dalam kehidupan manusia sehari-hari. Dengan keterampilan menyimak
dan berbicara kita dapat memperoleh dan menyampaikan informasi. Kegiatan
Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD 1 menyimak dan berbicara tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, siswa dituntut
untuk mampu menyimak dan berbicara dengan baik.
Agar pembelajaran berbahasa lisan memperoleh hasil yang baik, strategi
pembelajaran yang digunakan guru harus memenuhi kriteria berikut.
1) Relevan dengan tujuan pembelajaran
2) Menantang dan merangsang siswa untuk belajar
3) Mengembangkan kreativitas siswa secara individual ataupun kelompok.
4) Memudahkan siswa memahami materi pelajaran
5) Mengarahkan aktivitas belajar siswa kepada tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan.
6) Mudah diterapkan dan tidak menuntut disediakannya peralatan yang rumit.
7) Menciptakan suasana belajar mengajar yang menyenangkan.
Pada kesempatan ini kita akan membicarakan strategi pembelajaran
berbahasa lisan untuk kelas 3-6 SD. Sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SD, dapatlah
dikemukakan beberapa strategi pembelajaran berbahasa lisan sebagai berikut.
1) Simak - Kerjakan
Model ucapan guru berisi kalimat perintah. Siswa mereaksi atas perintah
guru. Reaksi siswa itu berbentuk perbuatan.
2) Simak - Terka
Guru mempersiapkan deskripsi sesuatu benda tanpa menyebut nama
bendanya. Deskripsi itu disampaikan secara lisan kepada siswa. Kemudian siswa
diminta menerka nama benda itu.
3) Simak --Berantai
Guru membisikkan suatu pesan kepada seorang siswa. Siswa tersebut
membisikkan pesan itu kepada siswa kedua. Siswa kedua membisikkan pesan itu
kepada siswa ketiga. Begir\tu seterusnya. Siswa trerakhir menyebuitkan pesan itu
dengan suara jelas di depan kelas. Guru memeriksa apakah pesan itu benar-benar
sampai pada siswa terakhir atau tidak.
4) Identifikasi Kalimat Topik
Guru membacakan sebuah paragraf lalu siswa menuliskan kalimat topiknya
5) Pemberian Petunjuk
Teknik pemberian petunjuk ini dilakukan dengan cara guru memberikan
sevuah petunjuk, seperti petunjuk mengerjakan sesuatu, petunjuk mengenai arah atau
letak suatu tempat yang memerlukan sejumlah persyaratan. Petunjuk harus jelas,
singkat, dan tepat. Pemberi petunjuk ini dapat dilakukan oleh guru kepada murid atau
sesama murid.
2 Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD 6) Bermain Peran
Bermain peran adalah simulasi tingkah laku dari orang yang diperankan.
Tujuannya adalah (1) melatih siswa untuk menghadapi situasi yang sebenarnya, (2)
melatih praktik berbahasa lisan secara intensif, dan (3) memberikan kesempatan
kepada siswa untuk mengembangkan kemampuannya berkomunikasi.
Dalam bermain peran, siswa bertindak, berlaku, dan berbahasa seperti orang
yang diperankannya. Dari segi bahasa berarti siswa harus mengenal dan dapat
menggunakan ragam-ragam bahasa yang sesuai.
7) Dramatisasi
Dramatisasi atau bermain drama adalah kegiatan mementaskan lakon atau
cerita. Biasanya cerita yang dilakonkan sudah dalam bentuk drama. Guru dan siswa
terlebih dahulu harus mempersiapkan naskah atau skenario, perilaku, dan
perlengkapan. Bermain drama lebih kompleks daripada bermain peran. Melalui
dramatisasi, siswa dilatih untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya dalam
bentuk bahasa lisan

Strategi Pembelajaran Bahasa Tulis
Saudara, keterampilan berbahasa tulis terdiri atas keterampilan membaca dan
menulis. Membaca merupakan kegiatan memahami bahasa tulis, sedangkan menulis
adalah kegiatan menggunakan bahasa tulis sebagai sarana untuk mengungkapakan
gagasan. Kedua keterampilan ini merupakan keterampilan dasar yang harus diajarkan
mulai dari kelas 1 SD. Dalam kesempatan ini hanya keterampilan membaca yang
akan dibahas di bawah ini.

Pembelajaran Membaca Pemahaman (MP) dengan Strategi Aktivitas Membaca Berpikir
Terbimbing (AMBT)
Upaya untuk mengoptimalkan pembelajaran MP sebagai salah satu bentuk
pembelajaran membaca dan keterampilan berbahasa di SD, strategi yang dapat
digunakan adalah strategi AMBT (direct reading- thinking activities). Strategi ini
berguna untuk yang berguna untuk membimbing siswa berinteraksi dengan teks
berlandas pada pendekatan proses membaca dimulai tahap prabaca, saatbaca,
pascabaca,
Aktivitas yang dilakukan saat prabaca ini membangkitkan pengalaman atau
skemata.. Hal Aktivitas yang dapat dilakukan antara lain, menyanmpaikan tujuan
membaca, menanyakan topik bacaan, menyampaikan langkah=langkah
pembelajaran, mencatat prediksi-prediksi siswa di papan tulis.
Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD 3 Aktivitas pascabaca adalah aktivitas pengajaran setelah siswa melakukan
kegiatan membaca. Pengajaran pada tahap pascabaca membaca ulang prediksi awal
yang dikemukakan pada tahap prabaca, bertanya-jawab untuk merevisi/menguji
prediksi awal, melakukan sharing hasil dalam diskusi kelas, serta menjawab
pertanyaan tingkat literal, inferensial, kritis, dan kreatif secara individu.

Latihan
Saudara, uraian di atas diharapkan dapat memberikan pengetahuan strategi
dalam keterampilan berbahasa. Untuk lebih memperdalam wawasan, Saudara
diharapkan dapat membaca buku bahan ajar cetak pada unit 3. Selain itu, untuk
mengetahui pemahaman Saudara tentang materi yang telah disajikan jawablah
pertanyaan berikut ini!
1. Buatlah sebuah contoh pembelajaran keterampilan menyimak-berbicara dengan
menggunakan teknik simak terka!
2. Buatlah sebuah contoh pembelajaran keterampilan membaca dengan
menggunakan Strategi Aktivitas Membaca Berpikir Terbimbing (AMBT)
Pilihlah sebuah teks, lalu jelaskan langkah-langkah pembelajaran dengan
menggunakan strategi AMBT.

Saudara Mahasiswa, setelah selesai mengerjakan latihan tersebut, segera kirimkan
melalui email kepada tutor online Anda. Umpan balik akan dapat Anda terima paling
lambat 2 minggu setelah batas akhir pengiriman. Jangan segan untuk menghubungi
tutor online Saudara jika mengalami kesulitan.

Selamat mengerjakan dan semoga sukses
4 Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD
(http://budimeeong.files.wordpress.com/2008/05/inisiasi_pembelajaran_bahasa_indonesia_sd_2.pdf)
INISIASI 4
PENGEMBANGAN MATERI PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR

Saudara, kalau pertemuan inisiasi terdahulu kita elah membicarakan
pendekatan pembelajaran bahasa Indonesia, kesempatan kali ini kita akan membahas
bagaimana mengembangkan materi pembelajaran bahasa Indonesia. Pengembangan
materi pembelajaran sangat penting untuk dipelajari. Hal ini karena materi
pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum atau buku paket masih terlalu umum.
Selain itu, materi itu belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan situasi kondisi siswa
Saudara . Oleh karena itu, seyogiyanya, seorang guru perlu memahami cara atau
prosedur mengembangkan bahan atau materi pembelajaran.
Inisiasi berikut ini akan membicarakan pengembangan materi pembelajaran
bahasa Indonesia (teori pengembangan bahan ajar, adopsi materi ajar, evaluasi
materi ajar, adaptasi materi ajar, dan menulis materi ajar). Adapun komptensi yang
akan dicapai dalam inisiasi ini adalah mahasiswa dapat membuat contoh materi ajar
keterampilan berbahasa.

Teori Pengembangan Materi Ajar
Seorang guru biasanya terlibat dalam tiga tingkatan yang berbeda di dalam
mendesain dan melaksanakan pembelajaran. Perbedaan di antara ke tiga tingkatan
tersebut terletak pada peranan yang dimainkan seorang guru dalam mengembangkan
pembelajaran dan di dalam pelaksanaan pembelajaran yang sebenarnya terhadap
siswa. Tabel 1 dibawah ini menggambarkan peranan guru di dalam mendesain dan
melaksanakan proses tersebut.

Tabel 1. Peranan guru di dalam mendesain dan melaksanakan proses pembelajaran

Model Pelaksanaan Pembelajaran dalam setiap Proses Pembelajaran

Peranan Guru
dalam
Mendesain
Materi Ajar
Pra
Pembelajaran
Penyampaian
Informasi
Partisipasi
Siswa
Aktivitas
Lanjutan
Pretest/
Posttest
I. Guru
mendesain
materi ajar

Materi ajar

Materi ajar

Materi ajar

Materi ajar

Guru/
Materi ajar
II. Guru
memilih dan










Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD 1 mengadaptasi
materi ajar
yang tersedia
yang sesuai
dengan tujuan
pembelajaran
Materi ajar
dan/atau guru
Materi ajar
dan/atau guru
Materi ajar
dan/atau guru
Materi ajar
dan/atau guru
Guru/
Materi ajar
III. Guru tidak
menggunakan
materi ajar
dalam
pembelajaran

Guru

Guru

Guru

Guru

Guru/
Materi ajar

Dari tabel di atas terlihat bahwa pada tahap kedua seorang guru memilih
dan mengadaptasi materi ajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, yang
memungkinkan bagi seorang guru menjalankan peranan lebih dalam proses
pembelajaran. Berbeda tahap 1 dan 3. Pada tahap satu seorang guru dalam proses
pembelajaran tentulah pasif, sedangkan tahap ketiga pembelajaran betul-betul
bergantung pada seorang guru.

Adopsi Materi Ajar (Materials Evaluation)
Langkah berikutnya dalam pengembangan materi ajar adalah menentukan
(mengevaluasi) apakah ada materi ajar yang sudah tersedia yang sesuai dengan
tujuan pembelajaran. Evaluasi materi ajar ini dimaksudkan untuk mengadopsi materi
ajar yang cocok yang akan kita pakai dalam proses pembelajaran. Dalam beberapa
situasi kita dapat menemukan banyak sekali materi ajar yang tersedia, baik yang
bersifat umum maupun yang khusus. Sebaliknya, sedikit sekali dari materi ajar itu
yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan kita lakukan.
Tujuan pembelajaran dapat menjadi acuan dalam memutuskan apakah materi
ajar yang tersedia sesuai dengannya atau apakah materi ajar itu perlu diadaptasi
sebelum digunakan. Materi ajar dapat dievaluasi untuk menentukan apakah (1) unsur
motivasi cukup terasa dalam materi tersebut, (2) isinya sesuai, (3) urutannya benar,
(4) semua informasi yang dibutuhkan tersedia, (5) latihan soal tersedia, (6)
mengandung umpan balik yang memadai, (7) test yang cocok disediakan, (8) arah
tindak lanjut diberikan dengan cukup, (9) panduan diberikan secara memadai.

Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD 2 Mengapa perlu mengevaluasi materi ajar?.
Saudara, evaluasi materi ajar pada dasarnya merupakan proses mencocokkan,
yaitu mencocokkan kebutuhan terhadap kemungkinan yang tersedia. Apabila proses
mencocokkan ini dilakukan seobjektif mungkin, ada baiknya untuk melihat
kebutuhan dan ketersediaan secara terpisah. Dalam analisis terakhir, pilihan yang
mana pun akan dilakukan secara subjektif. Sebagai contoh, apabila Saudara sedang
memilih sebuah mobil, Saudara mungkin akan memilih tampilannya atau memiliki
kecepatan 100 mph dalam 10 detik. Hal itu bergantung pada apa yang kita anggap
paling penting. Bahayanya apabila faktor-faktor subjektif sejak awal turut
mempengaruhi pengambilan keputusan, maka hal ini dapat menjadikan kita beralih
dari alternatif-alternatif yang sebetulnya lebih bagus.

Adaptasi Materi Ajar
Kebanyakan materi (buku) ajar yang diproduksi secara komersial dapat
diadaptasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan tujuan-tujuan yang tidak
dibayangkan sebelumnya oleh si penulis. Walaupun demikian, sebelum
mengadaptasi buku ajar, haruslah diingat bahwa buku ajar dari penulis dan
percetakan yang telah mempunyai reputasi telah ditulis dengan hati-hati dan telah
sering diujicobakan adalah lebih baik, maka dari itu sangat disarankan untuk
menggunakan buku seperti ini, paling tidak sekali sebagaimana disarankan oleh si
penulis sebelum anda berusaha untuk mengadaptasinya.
Adaptasi materi adalah kemungkinan lain yang dapat dilakukan oleh seorang
guru dalam rangka pengadaan buku ajar. Adaptasi materi ajar adalah membuat
perubahan terhadap materi yang sudah ada dalam rangka memperbaikinya atau
menjadikannya lebih cocok untuk siswa tertentu. Langkah-langkah yang dilakukan
adalah memodifikasi isi, menambah atau mengurangi isi, menyusun kembali isi,
menghilangkan bagian tertentu, memodifikasi dan mengembangkan tugas yang ada,.
Kemampuan mengadaptasi buku ajar merupakan sebuah keterampilan
penting bagi guru untuk dikembangkan. Melalui proses adaptasi, guru menjadikan
buku tersebut lebih personal, menjadikannya sebuah sumber mengajar yang lebih
baik, dan mengkhususkannya bagi sekelompok khusus siswa. Lazimnya, proses
seperti ini berlangsung secara bertahap sejalan dengan guru semakin paham dengan
buku tersebut.
Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD 3 Menulis Materi Ajar
Kemungkinan lain yang dapat dilakukan oleh seorang guru dalam
pengadaan
materi (buku) ajar adalah dengan cara menulis sendiri materi ajar tersebut. Guru
menyediakan informasi tentang pengalaman, bahasa dengan cara yang dirancang
untuk memajukan pembelajaran bahasa. Dalam hal ini, jika seorang guru bahasa itu
seorang pengembang materi, dia mungkin menulis buku, menulis cerita, membawa
iklan ke dalam kelas, atau menunjukan contoh-contoh pengunaan bahasa. Apapun
yang dia sediakan, dia melakukan itu dengan merujuk pada apa yang dia ketahui
tentang bagaimana bahasa dapat secara efektif dipelajari.

Latihan
Saudara, uraian di atas diharapkan dapat memberikan pengetahuan.
Bagaimana mengembangkan materi pembelajaran bahasa Indonesia. Untuk lebih
memperdalam wawasan, Saudara diharapkan dapat membaca buku bahan ajar cetak
pada unit 6. Selain itu, untuk mengetahui pemahaman Saudara tentang materi yang
telah disajikan jawablah pertanyaan berikut ini!
1. Kembangkanlah sebuah contoh materi pembelajaran keterampilan menulis untuk
kelas 6 semester 2, yaitu kompetensi dasar: menulis surat resmi! Surat resmi itu
berisi undangan pertemuam MGMP yang ditujukan kepada guru-guru gugus
sekolah Saudara yang akan diadakan di sekolah Saudara.

Saudara Mahasiswa, setelah selesai mengerjakan latihan tersebut, segera kirimkan
melalui email kepada tutor online Anda. Umpan balik akan dapat Anda terima paling
lambat 2 minggu setelah batas akhir pengiriman. Jangan segan untuk menghubungi
tutor online Saudara jika mengalami kesulitan.

Selamat mengerjakan dan semoga sukses

Inisiasi Pembelajaran Bahasa Indonesia SD 4

(http://www.umm.ac.id/pjj/file.php/1/moddata/forum/1/283/Inisiasi_Pembelajaran_Bahasa_Indonesia_SD_4.pdf)





































Pengantar
Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia mengundang perhatian ahli bahasa dan sastra, praktisi pembuat buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, guru SD, SMP, SMU yang tinggi. Entusiasme peserta pun tampak dari lalu-lintas tanya jawab yang aktif, mulai Senin 22/1 hingga Selasa 23/1, pukul 9.00-15.50. Oleh karena itu, saya sampaikan makalah M. Umar Muslim yang kebagian sesi “KTSP dan Pembelajaran Bahasa Indonesia”. Silakan simak makalah lengkap berikut ini.
KTSP DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
M. Umar Muslim
Universitas Indonesia
1. Pendahuluan
Dunia pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini diramaikan oleh isu pergantian kurikulum. Kurikulum yang berlaku sampai tahun 2006 adalah Kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah Kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau Kurikulum 2006 yang merupakan penyempurnaan dari KBK. KTSP mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007.
Adanya tiga macam kurikulum yang berlaku paling tidak pada awal pemberlakuan KTSP sangat membingungkan. Situasi ini diperparah dengan munculnya kesimpangsiuran informasi tentang KBK dan KTSP yang beredar di masyarakat. Guru sebagai orang yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan kurikulum merupakan pihak yang paling dibingungkan dengan situasi ini. Tulisan ini akan membahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP.
2. KTSP
KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum ini juga dikenal dengan sebutan Kurikulum 2006 karena kurikulum ini mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah harus sudah menerapkan kurikulum ini paling lambat pada tahun ajaran 2009/2010.
KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK, KTSP berbasis kompetensi. KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif.
Pengembangan dan penyusunan KTSP merupakan proses yang kompleks dan melibatkan banyak pihak: guru, kepala sekolah, guru (konselor), dan komite sekolah. Berikut ini akan dibahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP.
3. Bahan Ajar
Karena KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Karena pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah, bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat mengurangi dan menambah isi buku pelajaran yang digunakan.
Dengan demikian, guru harus mandiri dan kreatif. Guru harus menyeleksi bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekolahnya.Guru dapat memanfaatkan bahan ajar dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dsb.). Bahan ajar dikaitkan dengan isu-isu lokal, regional, nasional, dan global agar peserta didik nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai macam situasi kehidupan.
Untuk pelajaran membaca, misalnya, bahan bacaan dapat diambil dari surat kabar. Di samping surat kabar yang berskala nasional yang banyak menyajikan isu-isu nasional, ada surat kabar lokal yang banyak menyajikan isu-isu daerah. Kedua jenis sumber ini dapat dimanfaatkan. Bahan bacaan yang mengandung muatan nasional dan global dapat diambil dari surat kabar berskala nasional, sedangkan bahan bacaan yang mengandung muatan lokal dapat diambil dari surat kabar daerah. Berdasarkan bahan bacaan ini, guru dapat mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia yang kontekstual. Peserta didik diperkenalkan dengan isu-isu yang menjadi perhatian masyarakat di sekitarnya dan masyarakat yang tatarannya lebih luas.
Bahan ajar yang beragam jenis dan sumbernya ini tentu juga dapat digunakan untuk pelajaran-pelajaran yang lain (menulis, mendengarkan, dan berbicara).
Mengingat pentingnya televisi dan komputer (internet) dalam kehidupan sekarang ini, guru perlu memanfaatkan bahan ajar dari kedua sumber ini. Televisi dan komputer juga dapat dapat dipakai sebagai media pembelajaran yang menarik.
4. Metode Pembelajaran
Dalam KTSP guru juga diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran. Guru perlu memanfaatkan berbagai metode pembelajaran yang dapat membangkitkan minat, perhatian, dan kreativitas peserta didik. Karena dalam KTSP guru berfungsi sebagai fasilitator dan pembelajaran berpusat pada peserta didik, metode ceramah perlu dikurangi. Metode-metode lain, seperti diskusi, pengamatan, tanya-jawab perlu dikembangkan.
Pembelajaran yang dilakukan melalui diskusi, misalnya, dapat melibatkan partisipasi dari semua peserta didik. Semua peserta didik dapat berbicara, mengemukakan pendapatnya masing-masing. Guru dalam hal ini hanya mengarahkan bagaimana diskusi berjalan. Isu diskusi perlu dikaitkan dengan lingkungan sekitar (sekolah, daerah) hingga lingkungan global.
Kegiatan pembelajaran tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Kegiatan dapat dilakukan di luar kelas (perpustakaan, kantin, taman, dsb.), di luar sekolah (mengunjungi lembaga bahasa, stasiun radio/televisi, penerbit, dsb.). Beragamnya tempat pembelajaran dapat membuat suasana belajar yang tidak membosankan.
Kegiatan pembelajaran dapat juga melibatkan orang tua dan masyarakat. Sekolah dapat mengundang orang yang mempunyai profesi tertentu atau ahli dalam bidang tertentu untuk berbicara dan berdialog dengan peserta didik. Sebagai contoh, dalam pelajaran menulis dan berbicara (wawancara), kalau ada orang tua peserta didik yang berprofesi sebagai wartawan, guru dapat mengundang orang yang bersangkutan untuk berbicara dan berdiskusi tentang pekerjaannya denga peserta didik. Kegiatan seperti ini akan berguna untuk peserta didik, guru, dan orang tua. Mereka dapat saling belajar dan proses pembelajaran menjadi menarik dan bersifat kontekstual.
Dalam lingkungan sekolah, staf sekolah juga dapat dimanfaatkan. Misalnya, untuk pelajaran menulis surat resmi guru bisa meminta staf administrasi untuk berbicara tentang penulisan surat. Di samping berguna sebagai sumber pembelajaran, kegiatan ini juga berguna untuk membentuk lingkungan sekolah yang kondusif, yaitu adanya hubungan dan kerja sama yang baik di antara peserta didik, guru, dan staf.
Kalau memungkinkan, kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan kunjungan peserta didik kepada orang dengan profesi tertentu (misalnya penyunting bahasa atau penterjemah) atau ke lembaga tertentu (misalnya lembaga bahasa atau penerbit) untuk menggali informasi tentang bahasa Indonesia. Kegiatan ini akan membuka wawasan peserta didik dan guru akan profesi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia dan akan pentingnya bahasa Indonesia sehingga diharapkan muncul sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
5. KTSP: Peluang dan Tantangan
Pemberlakuan KTSP pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian sekolah. KTSP merupakan kurikulum yang sesuai dengan dinamika kehidupan di Indonesia sekarang ini dikaitkan dengan isu-isu seperti globalisasi dan otonomi daerah. Akan tetapi, pelaksanaan KTSP menuntut banyak hal dari sekolah dan masyarakat seperti profesionalisme, kreativitas, kemandirian guru dan kepala sekolah, serta keterlibatan masyarakat. Pelaksanaan KTSP juga menuntut banyak hal dari pemerintah seperti perencanaan pendidikan yang baik dan terarah, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, dan birokrasi/prosedur administrasi yang sederhana. KTSP juga menuntut partisipasi dan kepedulian masyarakat. Dengan persiapan yang matang dan suasana yang kondusif, KTSP berpeluang besar untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi yang diharapkan.
Tantangan bagi semua yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan adalah meningkatkan profesionalisme. Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia, guru perlu terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pembelajaran dan berbahasa Indonesia.
6. Penutup
Pembelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya bertujuan membekali peserta didik kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis. Perubahan atau pergantian kurikulum selalu menimbulkan masalah dan kebingungan bagi semua yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, terutama guru. Apa pun kurikulumnya, guru bahasa Indonesia harus tetap berpegang pada tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Guru perlu terus berusaha meningkatkan kemampuannya dan terus belajar untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik. Karena kurikulum yang akan berlaku dalam beberapa tahun mendatang adalah KTSP, guru perlu mengenal, mempersiapkan diri, dan menyiasati kurikulum ini. Dengan demikian, guru akan dapat menghadapi dan menanggulangi masalah-masalah yang muncul.
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. 2006. “Kurikulum Bahasa Berbasis Sastra.” Makalah untuk Seminar Nasional Kondisi Bahasa Indonesia Masa Kini, Akademi Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Drost, J. 2006. Dari KBK sampai MBS. Jakarta: Buku Kompas.
Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdkarya.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.
_________. 2006. Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tilaar, H.A.R. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional: Statu Tinjauan Kritis. Yakarta: Rineka Cipta.
(http://johnherf.wordpress.com/2007/03/15/ktsp-dan-pembelajaran-bahasa-indonesia/)



[GE MOZAIK, Agustus 2005] – Pengajaran Bahasa Indonesia di SD Harus Dilakukan Secara Utuh
Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar (SD) harus dilakukan secara utuh. “Agar model pengajaran bahasa Indonesia secara utuh bisa muncul, guru harus menetapkan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Kompetensi itu meliputi keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis,” ungkap dosen jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Dr. Lely Halimah, M.Pd., pada ujian disertasi untuk memperoleh gelar doktor ilmu kependidikan di Gedung Partere UPI, Bandung, Selasa, 9 Agustus 2005.

Dalam disertasi yang berjudul “Pengembangan Model Pembelajaran Bahasa Secara Utuh untuk Meningkatkan Kompetensi Komunikatif (Implementasi pada Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SD)” itu, Lely menyatakan bahwa pada model pengajaran bahasa Indonesia secara utuh, siswa harus berkomunikasi secara aktif. Mereka, katanya, harus menggunakan bahasa yang komunikatif. “Guru harus melihat siswa sebagai subjek yang aktif dan kreatif. Dengan demikian, materi pengajaran yang disampaikan oleh guru bisa dipahami dan dikomunikasikan oleh mereka,” ujarnya.

Dituturkannya, dalam kondisi begitu, aktivitas berbahasa yang dilakukan siswa dilakukan dalam suasana kebahasaan yang wajar dan alami. Bahasa yang digunakannya ialah bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga, menurutnya, akan muncul kekontekstualan isi komunikasi.

Mengenai peranan guru, lanjut Lely, pengajaran bahasa Indonesia secara utuh sangat ditunjang perubahan cara mengajar yang dilakukan oleh guru. “Kebiasaan guru yang menempatkan diri sebagai sumber informasi bagi siswa, harus dihilangkan. Pada model pembelajaran itu, guru sebatas menjadi fasilitator,” ujarnya.
(http://ganeca.blogspirit.com/archive/2005/11/17/ge-mozaik-agustus-2005-%E2%80%93-pengajaran-bahasa-indonesia-di-sd.html)















Catatan: Saya melakukan kopi-tempel karena melihat pentingnya konten artikel yang dikemukakan penulis. Demikian juga signifikasinya terhadap profesi penerjemahan, terutama penerjemah Indonesia.
Semoga adanya informasi yang disampaikan ini mendorong pemeliharaan bahasa Indonesia untuk terus dipertimbangkan sebagai bahasa yang memiliki peran penting. Bukan hanya penting karena kita sebagai ‘native speaker’ bahasa Indonesia tetapi juga karena bahasa Indonesia telah dapat mempersatukan keragaman bahasa daerah lain yang ‘telah mempersilakan’ bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.
Selamat membaca.
============
Pudarnya Pesona Bahasa Indonesia
Apa jadinya jika anak-anak muda anonim pencetus sumpah pemuda bangkit dari kubur dan mendapati anak-anak muda sekarang saat bicara dan menulis lebih suka nginggris ketimbang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Siswa sekolah pun kini menempatkan bahasa Indonesia pada nomor urut sepatu, tidak lagi menjadi pelajaran favorit. Tidak favorit berarti tidak penting untuk dipelajari. Ini terbukti dari hasil ujian nasional (UN) tiga tahun terakhir terus menurun.
Untuk SMP, nilai rata-rata UN Bahasa Indonesia tahun 2006 adalah 7,46, tahun 2007 menjadi 7,39, dan tahun 2008 menjadi 7,00. Untuk tingkat SMA Jurusan Bahasa, nilai rata-rata Bahasa Indonesia tahun 2006 adalah 7,40, kemudian 2007 turun 7,08, dan tahun 2008 menjadi 6,56. Hal yang sama terjadi untuk SMA Jurusan IPA dan IPS (Kompas, 1/11/2008).
Tak hanya itu, kurang favoritnya bahasa Indonesia juga menyebabkan rendahnya minat siswa memilih jurusan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Akibatnya, jurusan Bahasa Indonesia di sejumlah perguruan tinggi kekurangan mahasiswa, bahkan ada yang terancam ditutup.
Menekuni beberapa perangkaan di atas barangkali benar kalau ada yang mengatakan bahwa pesona bahasa Indonesia telah memudar dan tak lagi sakti. Kalah dengan bahasa asing, terutama Inggris dan Mandarin.
Guru bahasa dadakan
Beberapa asnad (bukti) di atas juga memunculkan pertanyaan penting: faktor-faktor apa saja yang menyebabkan pesona bahasa Indonesia pudar. Dan, upaya seperti apa yang harus dilakukan agar pesona itu hadir kembali.
Berdasarkan pembacaan saya, ada tiga sebab. Pertama, tidak semua siswa mendapatkan pelajaran Bahasa Indonesia dari guru (sarjana) Bahasa Indonesia. Karena kurangnya jumlah pengajar, guru berkompetensi di luar rumpun bahasa, misalnya guru Olahraga, Fisika, atau Matematika terpaksa (dipaksa?) mengajar Bahasa Indonesia.
Tak masalah jika guru dadakan itu tergolong seorang munsyi—komprehensi ganda antara seorang dan inklanasi kesukacitaan berbahasa Indonesia, dan karena itu terpanggil untuk menguasainya, dan seorang yang tertantang menghasilkan bentuk bahasa tulis kreatif dalam identitas kepujanggaan di atas sifat-sifat kedibyaan budaya (Alif Danya Munsyi, 2005). Jika gurunya guru dadakan, hitung sendiri risiko ”kekacauan” (kognisi, afeksi, psikomotorik) keberbahasaan yang akan timbul.
Oleh sebab itu, kalau memang secara kuantitas dan kualitas guru Bahasa Indonesia sudah mentok, menurut hemat saya, salah satu cara untuk mengatasi persoalan itu adalah dengan meminta para munsyi turun gelanggang, mengajar siswa dan guru.
Kedua, tujuan penilaian kurang dipahami banyak pihak. Yang dikejar sekadar nilai akhir yang bersifat kuantitatif. Berbicara tentang bahasa tentu akan berkaitan dengan ekspresi/praktik bahasa (aspek kualitatif).
Dari segi praktik, bahasa mempunyai empat ranah penguasaan. Sesuai urutan tumbuh kembang manusia, yaitu aspek mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writing).
Mestinya siswa didorong mengaitkan apa yang mereka dapat dengan pengalaman mereka sendiri saat menghabiskan jejulur waktu kehidupan; di sekolah, rumah, maupun lingkungan pergaulan.
”Ketika siswa dapat mengaitkan dengan pengalaman sendiri, mereka menemukan makna dan makna memberi mereka alasan untuk belajar,” tulis ELaine B Johnson dalam Contextual Teaching and Learning.
Ketiga, bahasa Indonesia, ibarat produk, ia lebih sering ditawarkan secara inferior. Tidak dikemas bagus, tetapi ala kadarnya, monoton. Guru sebagai pemasar tidak mampu meyakinkan calon pembeli bahwa produk yang dibawanya itu penting dan penuh manfaat.
Maka dari itu, perlu satu terobosan tentang bagaimana mengemas pembelajaran bahasa Indonesia agar menarik sehingga menerbitkan rasa cinta dan semangat belajar. Kalau cinta, para siswa akan memberikan perhatian tinggi.
Terobosan baru, misalnya, dari aspek writing dapat memanfaatkan blog sebagai ruang kreatif siswa. Tabiat asli blog yang bersifat personal akan memampukan mereka menulis tentang apa pun yang mereka suka, sepanjang apa pun yang mereka mampu. Dalam ranah listening, reading, dan speaking, siswa juga secara langsung dapat dikenal dan sentuhkan pada dunia yang sangat erat kaitannya dengan bahasa Indonesia, yaitu dunia literasi (keberaksaraan). Lebih spesifik lagi adalah dunia perbukuan dan jurnalistik.
Secara periodik pembelajaran dapat dilakukan di luar kelas melalui kunjungan ke pameran buku, ke rumah para pengarang dan penulis, melibatkan diri dalam diskusi perbukuan, kunjungan ke media massa dan penerbit buku (wisata baca), dan lain sebagainya. Dengan begitu, pembelajaran bahasa Indonesia menjadi hidup, dinamis, dan penuh kejutan-kejutan baru.
Oleh:AGUS M IRKHAM Editor Paruh Waktu; Instruktur Literasi Forum Indonesia Membaca

(http://www.penerjemah.my.proz.com/2009/01/12/pudarnya-pesona-bahasa-indonesia/)











Bahasa Indonesia, Antara Variasi dan Penggunaan
Ditulis oleh Umi Faizah, S.Pd.
Jumat, 17 April 2009 07:03
Abstrak

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang berfungsi sebagai alat komunikasi mempunyai peran sebagai penyampai informasi. Kebenaran berbahasa akan berpengaruh terhadap kebenaran informasi yang disampaikan. Berbagai fenomena yang berdampak buruk pada kebenaran berbahasa yang disesuaikan dengan kaidahnya, dalam hal ini berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.
Berbahasa yang baik yang menempatkan pada kondisi tidak resmi atau pada pembicaraan santai tidak mengikat kaidah bahasa di dalamnya. Ragam berbahasa seperti ini memungkinkan munculnya gejala bahasa baik interferensi, integrasi, campur kode, alih kode maupun bahasa gaul.

I. Pendahuluan

"Kami, putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia", demikianlah bunyi alenia ketiga sumpah pemuda yang telah dirumuskan oleh para pemuda yang kemudian menjadi pendiri bangsa dan negara Indonesia. Bunyi alenia ketiga dalam ikrar sumpah pemuda itu jelas bahwa yang menjadi bahasa persatuan bangsa Indonesia adalah bahasa Indonesia. Kita sebagai bagian bangsa Indonesia sudah selayaknya menjunjung tinggi bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Indonesia ialah bahasa yang terpenting di kawasan republik kita (Alwi, dkk, 2003:1). Dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, berarti kita telah menjunjung tinggi bahasa persatuan seperti yang diikrarkan dalam sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Kodrat manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari adanya interaksi dan komunikasi antarsesamanya. Bahasa sebagai sarana komunikasi mempunyaii fungsi utama bahasa adalah bahwa komunikasi ialah penyampaian pesan atau makna oleh seseorang kepada orang lain (1992:124). Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia menyebabkan bahasa tidak tetap dan selalu berubah seiring perubahan kegaiatan manusia dalam kehidupannya di masyarakat.
Perubahan bahasa dapat terjadi bukan hanya berupa pengembangan dan perluasan, melainkan berupa kemunduran sejalan dengan perubahan yang dialami masyarakat. Berbagai alasan sosial dan politis menyebabkan banyak orang meninggalkan bahasanya, atau tidak lagi menggunakan bahasa lain. Dalam perkembangan masyarakat modern saat ini, masyarakat Indonesia cenderung lebih senang dan merasa lebih intelek untuk menggunakan bahasa asing. Hal tersebut memberikan dampak terhadap pertumbuhan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa. Bahasa Inggris yang telah menjadi raja sebagai bahasa internasional terkadang memberi dampak buruk pada perkembangan bahasa Indonesia. Kepopuleran bahasa Inggris menjadikan bahasa Indonesia tergeser pada tingkat pemakaiannya.
Berbagai penyebab pergeseran pemakaian bahasa Indonesia, tidak hanya disebabkan oleh bahasa asing tetapi juga disebabkan oleh adanya interferensi bahasa daerah dan pengaruh bahasa gaul. Dewasa ini bahasa asing lebih sering digunakan daripada bahasa Indonesia hampir di semua sektor kehidupan. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia lebih sering menempel ungkapan “No Smoking” daripada “Dilarang Merokok”, “Stop” untuk “berhenti”, “Exit” untuk “keluar”, “Open House” untuk penerimaan tamu di rumah pada saat lebaran, dan masih banyak contoh lain yang mengidentifikasikan bahwa masyarakat Indonesia lebih menganggap bahasa asing lebih memiliki nilai.

II. Pembahasan

A. Penyebab terjadinya variasi penggunaan bahasa asing dalam lingkup masyarakat Indonesia, sebagai berikut :

1. Interferensi
Heterogenitas Indonesia dan disepakatinya bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional berimplikasi bahwa kewibawaan akan berkembang dalam masyarakat. Perkembanngan ini tentu menjadi masalah tersendiri yang perlu mendapat perhatian, kedwibahasaan, bahkan kemultibahasaan adalah suatu kecenderungan yang akan terus berkembang sebagai akibat globalisasi. Di samping segi positifnya, situasi kebahasaan seperti itu berdampak negatif terhadap penguasaan Bahasa Indonesia. Bahasa daerah masih menjadi proporsi utama dalam komunikasi resmi sehingga rasa cinta terhadap bahasa Indonesia harus terkalahkan oleh bahasa daerah.
Alwi, dkk.(eds.) (2003: 9), menyatakan bahwa banyaknya unsur pungutan dari bahasa Jawa, misalnya dianggap pemerkayaan bahasa Indonesia, tetapi masuknya unsur pungutan bahasa Inggris oleh sebagian orang dianggap pencemaran keaslian dan kemurnian bahasa kita. Hal tersebut yang menjadi sebab adanya interferensi. Chaer (1994: 66) memberikan batasan interferensi adalah terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang digunakan itu.
Selain bahasa daerah, bahasa asing (baca Inggris) bagi sebagian kecil orang Indonesia ditempatkan di atas bahasa Indonesia. Faktor yang menyebabkan timbulnya sikap tersebut adalah pandangan sosial ekonomi dan bisnis. Penguasaan bahasa Inggris yang baik menjanjikan kedudukan dan taraf sosial ekonomi yang jauh lebih baik daripada hanya menguasai bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa Inggris di ruang umum telah menjadi kebiasaan yang sudah tidak terelakkan lagi. Hal tersebut mengkibatkan lunturnya bahasa dan budaya Indonesia yang secara perlahan tetapi pasti telah menjadi bahasa primadona. Misalnya, masyarakat lebih cenderung memilih “pull” untuk “dorong” dan “push” untuk “tarik”, serta “welcome” untuk “selamat datang”.
Sikap terhadap bahasa Indonesia yang kurang baik terhadap kemampuan berbahasa Indonesia di berbagai kalangan, baik lapisan bawah, menengah, dan atas; bahkan kalangan intelektual. Akan tetapi, kurangnya kemampuan berbahasa Indonesia pada golongan atas dan kelompok intelektual terletak pada sikap meremehkan dan kurang menghargai serta tidak mempunyai rasa bangga terhadap bahasa Indonesia.

2. Integrasi
Selain interferensi, integrasi juga dianggap sebagai pencemar terhadap bahasa Indonesia. Chaer (1994:67), menyatakan bahwa integrasi adalah unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk sudah dianggap, diperlakukan, dan dipakai sebagai bagian dan bahasa yang menerima atau yang memasukinya. Proses integrasi ini tentunya memerlukan waktu yang cukup lama, sebab unsur yang berintegrasi itu telah disesuaikan, baik lafalnya, ejaannya, maupun tata bentuknya. Contoh kata yang berintegrasi antara lain montir, riset, sopir, dongkrak.

3. Alih Kode dan Campur Kode
Alih kode ( code swiching) dan campur kode (code mixing) merupakan dua buah masalah dalam masyarakat yang multilingual. Peristiwa campur kode dan alih kode disebabkan karena penguasaan ragam formal bahasa Indonesia.
Alih kode adalah beralihnya penggunaan suatu kode (entah bahasa atau ragam bahasa tertentu) ke dalam kode yang lain (bahasa atau bahasa lain) (Chaer, 1994: 67). Campur kode adalah dua kode atau lebih digunakan bersama tanpa alasan, dan biasanya terjadi dalam situasi santai (Chaer, 1994: 69). Di antara ke dua gejala bahasa itu, baik alih kode maupun campur kode gejala yang sering merusak bahasa Indonesia adalah campur kode. Biasanya dalam berbicara dalam bahasa Indonesia dicampurkan dengan unsur-unsur bahasa daerah. Sebaliknya juga bisa terjadi dalam berbahasa daerah tercampur unsur-unsur bahasa Indonesia. Dalam kalangan orang terpelajar seringkali bahasa Indonesia dicampur dengan unsur-unsur bahasa Inggris.

4. Bahasa Gaul
Dewasa ini pemakaian bahasa Indonesia baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia film mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa anak remaja yang dikenal dengan bahasa gaul. Interferensi bahasa gaul kadang muncul dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi resmi yang mengakibatkan penggunaan bahasa tidak baik dan tidak benar.
Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para bajingan atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman.
Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.
Dewasa ini, bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa gaul. Dalam konteks kekinian, bahasa gaul merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu. Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999.
Contoh penggunaan bahasa gaul sebagai berikut :

Bahasa Indonesia Bahasa Gaul (informal)
Aku, Saya Gue
Kamu Elo
Di masa depan kapan-kapan
Apakah benar? Emangnya bener?
Tidak Gak
Tidak Peduli Emang gue pikirin!

B. Langkah-langkah

1. Menjadikan lembaga pendidikan sebagai basis pembinaan bahasa
Dunia pendidikan yang syarat pembelajaran dengan media bahasa menjadikan bahasa sebagai alat komunikasi yang primer. Sejalan dengan hal tersebut, bahasa baku merupakan simbol dalam dunia pendidikan dan cendekiawan. Penguasaan Bahasa Indonesia yang maksimal dapat dicapai jika fundasinya diletakkan dengan kokoh di rumah dan di sekolah mulai TK (Taman Kanak-kanak) sampai PT (Perguruan Tinggi). Akan tetapi, fundasi ini pada umumnya tidak tercapai. Di berbagai daerah, situasi kedwibahasaan merupakan kendala. Para guru kurang menguasai prinsip-prinsip perkembangan bahasa anak sehingga kurang mampu memberikan pelajaran bahasa Indonesia yang serasi dan efektif.
Bahasa baku sebagai simbol masyarakat akademis dapat dijadikan sarana pembinaan bahasa yang dilakukan oleh para pendidik. Para pakar kebahasaan, misalnya Keraf, 1979:19; Badudu, 1985:18; Kridalaksana, 1987:4-5; Sugono, 1994:8, Sabariyanto, 2001:3; Finoza, 2002:7; Alwi dkk., (eds.) 2003:5; serta Arifin dan Amran, 2004:20 memberikan batasan bahwa bahasa Indonesia baku merupakan ragam bahasa yang digunakan dalam dunia pendidikan berupa buku pelajaran, buku-buku ilmiah, dalam pertemuan resmi, administrasi negara, perundang-undangan, dan wacana teknis yang harus digunakan sesuai dengan kaidah bahasa yang meliputi kaidah fonologis, morfologis, sintaktis, kewacanaan, dan semantis.
Rusyana, 1984:152 menyatakan bahwa dalam membina masyarakat akademik, penggunaan bahasa yang tidak baik dan tidak benar akan menimbulkan masalah. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dianggap mempunyai peranan dalam menuju arah pembangunan masyarakat akademik idaman.

2. Perlunya pemahaman terhadap bahasa Indonesia yang baik dan yang benar
Kurangnya pemahaman terhadap variasi pemakaian bahasa berimbas pada kesalahan penerapan berbahasa. Secara umum dan nyata perlu adanya kesesuaian antara bahasa yang dipakai dengan tempat berbahasa. Tolok ukur variasi pemakaian bahasa adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan parameter situasi. Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan norma yang berlaku dan sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia (Sugono, 1994: 8).
a. Bahasa Indonesia yang baik
Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti di warung kopi, pasar, di tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang tidak terlalu terikat pada patokan. Dalam situasi formal seperti kuliah, seminar, dan pidato kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal yang selalu memperhatikan norma bahasa.
b. Bahasa Indonesia yang benar
Bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Kaidah bahasa itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika kaidah ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata ditaati secara konsisten, pemakaian bahasa dikatakan benar. Sebaliknya jika kaidah-kaidah bahasa kurang ditaati, pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar atau tidak baku.
Hymes (1974) dalam Chaer (1994:63) mengatakan bahwa suatu komunikasi dengan menggunakan bahasa harus memperhatikan delapan unsur yang diakronimkan menjadi SPEAKING, yakni :
a) Setting and Scene, yaitu unsur yang berkenaan dengan tempat dan waktu terjadinya percakapan. Contohnya, percakapan yang terjadi di kantin sekolah pada waktu istirahat tentu berbeda dengan yang terjadi di kelas ketika pelajaran berlangsung.
b) Participants, yaitu orang- orang yang terlibat dalam percakapan. Contohnya, antara karyawan dengan pimpinan. Percakapan antara karyawan dan pimpinan ini tentu berbeda kalau partisipannya bukan karyawan dan pimpinan, melainkan antara karyawan dengan karyawan.
c) Ends, yaitu maksud dan hasil percakapan. Misalnya, seorang guru bertujuan menerangkan pelajaran bahasa Indonesia secara menarik, tetapi hasilnya sebaliknya, murid-murid bosan karena mereka tidak berminat dengan pelajaran bahasa.
d) Act Sequences, yaitu hal yang menunjuk pada bentuk dan isi percakapan. Misalnya dalam kalimat:
1). Sinta berkata dalam hati, "Semoga aku diterima di perguruan tinggi negeri".
2). Sinta berkata dalam hati, semoga dia diterima di perguruan tinggi negeri.
Perkataan “Semoga aku diterima di perguruan tinggi negeri” pada kalimat (1) adalah bentuk percakapan, sedangkan kalimat (2) adalah contoh isi percakapan.
e) Key, yaitu menunjuk pada cara atau semangat dalam melaksanakan percakapan.
f) Instrumentalities, yaitu yang menunjuk pada jalur percakapan apakah secara lisan atau bukan.
g) Norm, yaitu yang menunjuk pada norma perilaku peserta percakapan.
h) Genres, yaitu yang menunjuk pada kategori atau ragam bahasa yang digunakan.

3. Diperlukan adanya undang-undang kebahasaan
Masih teringat pada benak kita beberapa tahun lalu pemerintah mencanangkan undang-undang tentang penggunaan bahasa Indonesia yang mengharamkan penggunaan bahasa asing di ruang umum. Hal tersebut menggambarkan kerja pemerintah yang dinilai masih setengah-setengah terhadap bahasa bangsa sendiri.
Dengan adanya undang-undang penggunaan bahasa diarapkan masyarakat Indonesia mampu menaati kaidahnya agar tidak mencintai bahasa negara lain di negeri sendiri. Sebagai contoh nyata, banyak orang asing yang belajar bahasa Indonesia merasa bingung saat mereka berbicara langsung dengan orang Indonesia asli, karena Bahasa yang mereka pakai adalah formal, sedangkan kebanyakan orang Indonesia berbicara dengan bahasa informal dan gaul.

4. Peran variasi bahasa dan penggunaannya
Variasi bahasa terjadi akibat adanya keberagaman penutur dalam wilayah yang sangat luas. Penggunaan variasi bahasa harus disesuaikan dengan tempatnya (diglosia), yaitu antara bahasa resmi atau bahasa tidak resmi.
a. Variasi bahasa tinggi (resmi) digunakan dalam situasi resmi seperti, pidato kenegaraan, bahasa pengantar pendidikan, khotbah, suat menyurat resmi, dan buku pelajaran. Variasi bahasa tinggi harus dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah.
b. Variasi bahasa rendah digunakan dalam situasi yang tidak formal, seperti di rumah, di warung, di jalan, dalam surat-surat pribadi dan catatan untuk dirinya sendiri. Variasi bahasa ini dipelajari secara langsung dalam masyarakat umum, dan tidak pernah dalam pendidikan formal.

5. Menjunjung tinggi bahasa Indonesia di negeri sendiri
Sebenarnya apabila kita mendalami bahasa menurut fungsinya yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama dan utama di negara Republik Indonesia.
Bahasa daerah yang berada dalam wilayah republik bertugas sebagai penunjang bahasa nasional, sumber bahan pengembangan bahasa nasional, dan bahasa pengantar pembantu pada tingkat permulaan di sekolah dasar di daerah tertentu untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain. Jadi, bahasa-bahasa daerah ini secara sosial politik merupakan bahasa kedua.
Selain bahasa daerah, bahasa-bahasa lain seperti bahasa Cina, bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Belanda, bahasa Jerman, dan bahasa Perancis berkedudukan sebagai bahasa asing. Di dalam kedudukannya sebagai bahasa asing, bahasa-bahasa terebut bertugas sebagai sarana perhubungan antarbangsa, sarana pembantu pengembangan bahasa Indonesia, dan alat untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern bagi kepentingan pembangunan nasional. Jadi, bahasa-bahasa asing ini merupakan bahasa ketiga di dalam wilayah negara Republik Indonesia.

III. Simpulan

Gejala bahasa yang dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia dianggap asebagai penyimpangan terhadap bahasa. Kurangnya kesadaran untuk mencintai bahasa di negeri sendiri berdampak pada tergilasnya atau lunturnya bahasa Indonesia dalam pemakaiannya dalam masyarakat.
Salah satu kebijakan untuk tetap melestarikan bahasa nasional adalah pemerintah bersama segenap lapisan masyarakat menjunjung tinggi bahasa Indonesia agar tetap menjadi bahasayang dapat dibanggakan dan sejajar dengan bahasa-bahasa di seluruh dunia.

Daftar Pustaka

Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowipjojo, Hans Lapoliwa, dan Anton M. Moeliono (eds). 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai.2004. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
Badudu, J.S.1985. Cakrawala Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta. Rineka Cipta.
Finoza, Lamuddin.2002. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai Pustaka.
Keraf, Gorys. 1989. Komposisi. Jakarta: Nusa Indah.
Kridalaksana, Harimurti. 1987. Sintaksis. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sabariyanto, Dirgo. 2001. Kebakuan dan Ketidakbakuan dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
Sugono, Dendy. 1994. Berbahasa Indonesia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.




{http://www.um-pwr.ac.id/web/artikel/390-bahasa-indonesia-antara-variasi-dan-penggunaan.html}



PROBLEMATIKA PENGAJARAN BAHASA INDONESIA
oleh : NasrulAzwar
Pengarang : Abdul Haris Ishaq. S. S

Negara Indonesia terdiri dari berbagai suku yang tinggal di beberapa pulau. Negara Indonesia memiliki bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangat penting kedudukannya dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, Bahasa Indonesia diajarkan sejak kelas 1. Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang dijadikan status sebagai bahasa persatuan sangat penting untuk diajarkan sejak anak-anak.
Metode pengajaran bahasa Indonesia tidak dapat menggunakan satu metode karena bahasa Indonesia sendiri yang bersifat dinamis. Bahasa sendiri bukan sebagai ilmu tetapi sebagai keterampilan sehingga penggunaan metode yang tepat perlu dilakukan. Pencarian penulis di beberapa artikel baik melalui internet mapun perpustakaan daerah belum banyak ditemukan hasil-hasil penelitian metode terbaik pengajaran bahasa Indonesia. Pengajar Bahasa memiliki suatu kewajiban untuk mempertahankan keberadaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus memperjuangkan Bahasa Indonesia dapat diterima dan membuat tertarik bangsa lain untuk mempelajarinya.
Di abad ini sumber-sumber informasi telah berkembang pesat di luar sekolah dengan cara yang begitu menarik dan ketika memasuki sekolah siswa sudah memiliki kekayaan informasi itu. Pesan-pesan media yang dikemas dalam bentuk hiburan, iklan, atau berita sungguh menarik para siswa dan ini bertolak belakang dengan pesan-pesan yang dikemas para guru dalam pembelajaran di kelas. (Republika, 2004). Pada pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar / madrasah ibtidaiyah sangat mengandalkan penggunaan metode-metode yang aplikatif dan menarik. Pembelajaran yang menarik akan memikat anak-anak untuk terus dan betah mempelajari Bahasa Indonesia sebagai bahasa ke-2 setelah bahasa ibu.
Di sebagian siswa, pembelajaran Bahasa Indonesia sangat membosankan karena mereka sudah merasa bisa dan penyampaian materi yang kurang menarik sehingga secara tidak langsung siswa menjadi lemah dalam penangkapan materi tersebut. Penulis sebagai guru Bahasa Indonesia sangat merasakan problem pembelajaran yang terjadi selama ini. Penulis juga menemui kasus serupa ketika berada di daerah kabupaten yang terpencil sangat kurang sekali penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Oleh sebab itu, penulis berusaha melakukan perubahan-perubahan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di dalam kelas. Salah satu perubahan yang dilakukan dengan menggunakan metode role play dan metode STAD (student teams achievement division) dalam standart kompetensi berbicara dan membaca.
Setelah menemukan, siswa yang mencari tersebut berusaha untuk mengorek keterangan tentang kegemarannya dengan menggunakan pertanyaan yang sudah disediakan di kartu perannya (boleh ditambah sendiri), tetapi siswa yang diajak bicara diberi tahu supaya jangan menjawan secara langsung kegemaran dirinya. Dengan kegiatan ini, siswa saling berusaha untuk mencari dan memainkan strategi untuk mengetahui kegemaran teman bicaranya. Kegiatan ini dilakukan secara bergantian. Setelah selesai melakukan kegiatan tersebut, pengajar memberikan pengarahan sekaligus bertanya jawab tentang kegiatan yang sudah dilakukan. Siswa yang dapat mengetahui kegemaran lawan bicaranya diberi penghargaan. Dalam pembelajaran membaca dapat memakai metode STAD sebagai kegiatan memacu anak-anak memahami bacaan dengan cara diskusi kelompok.
Dalam metode ini, siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat atau lima orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Saat belajar berkelompok, siswa saling membantu untuk menuntaskan materi yang dipelajari. Guru memantau dan mengelilingi tiap kelompok untuk melihat adanya kemungkinan siswa yang memerlukan bantuan guru. Metode ini pun dibantu oleh metode pelatihan, penugasan, dan tanya jawab sesuai satuan pelajaran sehingga ketuntasan materi dapat terwujud (Her World Indonesia edisi Maret 2005, halaman 190 – 1).
Pada saat siswa bekerja dalam tim, guru berkeliling dalam kelas, sambil memberikan pujian kepada tim yang bekerja baik dan secara bergantian guru duduk bersama tim untuk memperhatikan bagaimana anggota-anggota tim itu bekerja h. Memberikan penekanan kepada siswa bahwa mereka tidak boleh mengakhiri kegiatan belajar sampai dapat menjawab dengan benar soal-soal kuis yang ditanyakan. Hasil kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode STAD didapatkan nilai rata-rata 8,31, daya serap 80,31, dan kategori bekerhasilan 70 - 95 persen.
Pengajar meminimalkan memmberikan instruksi atau penjelasan kepada siswa, biarkan tiap kelompok mencari dan menemukan sendiri pemecahan masalah yang ada di LKS. Setelah itu, di akhir pelajaran tiap kelompok melakukan diskusi tentang hasil kerja kelompoknya dengan kelompok lainnya dengan bimbingan pengajar. Semoga tulisan ini menjadi sebuah wacana baru bagi pengajaran Bahasa Indonesia yang bagi sebagaian siswa merupakan pelajaran yang sangat membosankan. Tulisan ini bukan sebagai akhir dari sebuah pencarian metode pembelajaran yang terbaik guna meningkatkan kualitas siswa. Manusia tanpa cinta bagai pohon yang tidak berbuah, guru tanpa belajar bagai rumah tanpa tiang.

{http://id.shvoong.com/law-and-politics/1776918-problematika-pengajaran-bahasa-indonesia/}





Belajar Bahasa Mandarin
Ditulis oleh: Lianneke Gunawan dari berbagai sumber

Dengan adanya pelajaran bahasa Mandarin di Dunia Belajar maka kami ingin memberikan sedikit pengetahuan dasar mengenai cara belajar berbahasa Mandarin baik membaca maupun menuliskannya.

Bahasa mandarin atau bahasa han (hànyŭ) adalah bahasa nasional Republik Rakyat Cina (RRC). Bahasa ini selain digunakan sendiri oleh rakyat Cina juga berlaku secara internasional dan sebagai salah satu bahasa resmi di PBB.

Menguasai bahasa asing di samping bahasa kita sendiri merupakan suatu keuntungan yang luar biasa, karena dengan demikian kita bisa juga mempelajari masyarakat dan kebudayaan pengguna bahasa itu dengan lebih baik dan lebih benar..

Bagi sebagian orang kelihatannya mempelajari bahasa mandarin sangatlah sulit. Akan tetapi sangatlah mudah bila kita mengetahui kunci-kuncinya. Bahasa mandarin adalah bahasa yang unik. Ia berbeda dari bahasa-bahasa lain dalam hal penulisan (karakter) yang memiliki urutan yang berurutan dan apabila satu huruf digabungkan dengan huruf yg lain akan mempunyai arti yang berbeda serta mempunyai nada bunyi yang menarik.

Untuk mempermudah dan melancarkan membaca huruf mandarin maka kita mempergunakan ejaan pīnyīn (ejaan latin huruf mandarin yg digunakan di RRC). Nada bunyi dalam bahasa mandarin terbagi menjadi empat macam, yaitu:
• nada pertama, tinggi nada rata dari awal sampai akhir -
• nada kedua, dari nada sedang naik dengan cepat ke nada tinggi /
• nada ketiga, dari nada sedang turun ke nada bawah, lalu naik ke nada tinggi v
• nada keempat, dari nada tinggi turun dengan cepat ke nada bawah \
Ucapan dalam ejaan pīnyīn:

A. Huruf hidup :
Dalam bahasa mandarin, huruf hidup a, i, u , e , dan o diucapkan sama seperti bahasa Indonesia. Sedangkan tanda bunyi seperti yang telah disebutkan diatas, ditempatkan diatas huruf hidup, gunanya adalah untuk membedakan ucapan kata tersebut.
Misalnya : tiān (langit), mén (pintu), hăo (bagus), mài (menjual).
B. Huruf mati :
b diucapkan menjadi p, contoh : bù (tidak) diucapkan menjadi pu.
p diucapkan menjadi b, contoh : piào (karcis) diucapkan menjadi biao.
t diucapkan menjadi d, contoh : tíng (berhenti) diucapkan menjadi ding.
d diucapkan menjadi t, contoh : dà (besar) diucapkan menjadi ta..
k diucapkan menjadi g, contoh : kàn (melihat) diucapkan menjadi gan.
g diucapkan menjadi k, contoh : gān (kering) diucapkan menjadi kan.
zh, j dan z diucapkan menjadi c, contoh : zhòng (berat) diucapkan menjadi chong, jìn (dekat) diucapkan menjadi cin, zuò (duduk) diucapkan menjadi cuo.
ch, c dan q diucapkan menjadi j, contoh : cháng (panjang) diucapkan menjadi jang, căo (rumput) diucapkan menjadi jao, qĭng (silakan) diucapkan menjadi jing.
s, sh, dan x diucapkan menjadi s, contoh : sān (tiga) diucapkan menjadi san, shŏu (tangan) diucapkan menjadi sou, xìn (surat) diucapkan menjadi sin.

Di dalam huruf mandarin tidak terdapat huruf v. Sedangkan huruf mati lainnya diucapkan sama seperti huruf dalam bahasa Indonesia.


{http://www.duniabelajar.com/guru-tips-lihat.php?id=5&kelas=2}










MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF
Puisi-puisi »
BAHASA INDONESIA SEKOLAH DASAR
Filed under: Pembelajaran BI di Kelas-kelas awal — 27 September 2008 @ 04:28
A. RUANG LINGKUP
Materi Modul Bahasa Indonesia SD meliputi:
Modul 1
Pengajaran Menyimak di sekolah dasar meliputi pengertian, proses, dan pembelajaran menyimak di SD
Modul 2
Pengajaran Membaca di sekolah dasar meliputi pengertian, level membaca, faktor yang mempengaruhi proses membaca, dan model-model membaca
Modul 3
Pengajaran Berbicara di sekolah dasar meliputi hubungan kompentensi berbicara dengan kompetensi lainnya, fenomena berbicara di depan umum, sifat-sifat umum pendengar pidato, dan kemampuan berbicara siswa
Modul 4
Pengajaran Menulis di sekolah dasar meliputi hubungan keterampilan menulis dengan keterampilan berbahasa lainnya, proses menulis, dan menulis fiksi dan nonfiksi
Modul 5
Apresiasi Sastra Indonesia meliputi pengertian puisi, jenis puisi, unsur yang membangun puisi, diksi, dan kepuitisan.
B. TUJUAN
Setelah mempelajari modul ini, peserta diharapkan mampu:
1. Menjelaskan pengertian menyimak, proses, dan pembelajaran menyimak di SD.
2. Menjelaskan pengertian membaca, level membaca, faktor-faktor yang mempengaruhi proses membaca, dan model-model membaca.
3. Menjelaskan hubungan keterampilan berbicara dengan keterampilan berbahasa yang lainnya, fenomena berbicara di depan umum, sifat-sifat umum pendengar pidato, dan kemampuan berbicara siswa.
4. Menjelaskan pengertian menulis fiksi dan nonfiksi.
5. Menjelaskan pengertian puisi, jenis puisi dan menganalisis berbagai jenis puisi.

C. MATERI
Modul 1
Pengajaran Menyimak di SD
1 Pengertian Menyimak
Ada dua istilah dalam bahasa Indonesia yang artinya berhubungan dengan konsep menyimak, yaitu mendengar dan mendengarkan. Mendengar berarti dapat menangkap bunyi dengan telinga tanpa adanya unsur kesengajaan. Mendengarkan berarti mendengar sesuatu bunyi tetapi dibarengi dengan adanya unsur kesengajaan, sedangkan menyimak berarti mendengarkan dengan baik-baik, dengan penuh perhatian tentang apa yang diucapkan oleh seseorang ataupun yang lain, adanya kemampuan menangkap dan memahami makna pesan yang terkandung dalam bunyi serta unsur kesanggupan mengingat pesan (Soedjiatno, 1982:5, Tarigan, 1991:3-4).
Sementara itu, Kridalaksana (1993) menggunakan mendengar untuk istilah menyimak, sebagai terjemahan listening. Dalam bahasa Indonesia mendengar, mendengarkan, dan menyimak memiliki kemiripan arti, sehingga sering timbul kekacauan pemahaman. Menyimak memiliki kandungan makna yang lebih spesifik bila dibandingkan dengan kedua istilah sebelumnya. Namun, sekali lagi menyimak ini sering disamakan dengan mendengarkan, sehingga pada beberapa hal keduanya dapat digunakan secara bergantian.
Menurut Goss (dalam Farris, 1993:154), menyimak merupakan suatu proses mengorganisasi apa yang didengar dan menetapkan unit-unit verbal yang berkorespondensi sehingga bisa ditangkap makna tertentu dari apa yang didengar. Menyimak merupakan suatu proses internal yang sulit dipahami. Lundsteen (dalam Tompkins dan Hoskisson, 1991:108) menggambarkan menyimak sebagai most mysterious language process. Dinyatakan demikian karena kenyataannya guru sulit untuk mengetahui sejauhmana siswanya berhasil atau tidak dalam suatu proses pembelajaran menyimak. Ia juga mengemukakan bahwa menyimak merupakan proses yang sangat kompleks dan interaktif, yakni siswa dituntut mampu mengubah bahasa atau wacana lisan yang didengar menjadi sebuah makna di dalam pikiran.
2 Proses Menyimak
Ada beberapa teori yang dikemukakan oleh para pakar yang dapat dijadikan acuan untuk memahami proses menyimak. Wolvin dan Coakley (1985) sebagaimana yang dikutip oleh Tompkins dan Hoskisson (1991:108) mengemukakan ada tiga tahap utama dalam proses menyimak, yaitu receiving, attending, dan assigning meaning. Pada tahap pertama, penyimak menerima rangsangan suara dan gambar (aural and visual) yang disampaikan pembicara. Selanjutnya, penyimak berkosentrasi pada rangsangan tertentu dan mengabaikan rangsangan lain yang mengganggu. Karena ada berbagai rangsangan di sekitar siswa di kelas, maka mereka harus memperhatikan pesan pembicara, dan berkonsentrasi pada informasi terpenting dalam pesan tersebut. Pada tahap ketiga, penyimak mengolah pesan dengan menggunakan asimilasi dan akomodasi untuk menyesuaikan pesan yang diterima dengan struktur kognitif yang telah dimilikinya atau membuat stuktur baru jika perlu.
Sejalan dengan itu, Farris (1993:155) menyatakan bahwa proses menyimak itu terdiri dari tiga tahap dasar, yaitu: (1) receiving the auditory input, (2) attending to the received, (3) auditory input, and (3) interpreting and interacting with the received auditory input.
Hal senada dikemukakan oleh Nicholas (1988:19) bahwa menyimak merupakan proses aktif karena penyimak berperan aktif dalam menyusun pesan yang disampaikan. Rivers dan Temperley (1978) melihat proses menyimak dengan pemahaman sebagai proses yang melalui beberapa tingkatan sebagai berikut.
(1) Saat seseorang mendengar suara, reaksi pertamanya adalah menemukan apakah suara tersebut adalah suara yang teratur (seperti bahasa atau musik) atau suara yang tidak teratur. Dengan kata lain, sebelum ia memahami maksudnya ia harus mengenali apakah suara tersebut datang secara sistematis atau tidak.
(2) Langkah berikutnya adalah menentukan struktur suara. Ia dapat memilah-milah menjadi kata-kata dan kalimat jika suara itu adalah bahasa serta memilahnya menjadi bagian-bagian irama jika suara tersebut adalah musik.
(3) Kemudian ia mengedarkan suara tersebut dalam pikirannya serta memilah-milah pesan yang penting dan tidak penting. Informasi yang sudah dipilah akan terekam dalam ingatan atau akan diungkapkan.
Sementara itu, Tarigan (1986:58) dan Tarigan (1991:16) berpendapat bahwa proses menyimak mencakup beberapa tahap, yakni: (1) mendengar, (2) mengidentifikasi, (3) menginterpretasi, (4) memahami, (5) mengevaluasi, dan (6) menanggapi. Dalam setiap tahap tersebut diperlukan kemampuan tertentu agar proses menyimak dapat berjalan lancar. Misalnya, dalam tahap mendengar bunyi bahasa diperlukan kemampuan menangkap bunyi.
Teori proses menyimak yang lain dikemukakan oleh Nunan (1991:17-18) dan Richards (1990:63). Mereka mengemukakan tiga proses menyimak yaitu bottom-up, top-down dan interaksional. Proses bottom-up mengacu pada penggunaan data yang masuk sebagai sumber informasi tentang suatu pesan. Proses bottom-up ini dimulai dari menganalisis pesan yang diterima berdasarkan organisasi bunyi, kata, kalimat sampai pada proses penerimaan makna. Jadi, proses menyimak jenis ini dipandang sebagai proses penafsiran pesan (decoding).
Proses menyimak top-down mengacu pada suatu proses yang menggambarkan pengetahuan latar (back ground knowledge) dalam memahami maksud suatu pesan. Dalam proses ini, penyimak dibantu memahami pesan dan teks lisan dengan bantuan pengetahuan lainnya. Ada beberapa bentuk pengetahuan latar diantaranya adalah pengetahuan tentang topik suatu wacana, situasi, kontekstual ataupun pengetahuan yang telah menjadi memori bagi seseorang berupa skema.
Dalam proses menyimak jenis top-down, pengetahuan awal (prior knowledge) memiliki peranan yang penting karena pengetahuan awal tersebut dapat membantu penyimak dalam memahami simakan. Pengetahuan yang sebelumnya telah dipunyai oleh penyimak merupakan perbendaharaan sejumlah pengetahuan tentang “dunia” yang tersimpan dalam kerangka skemata dalam struktur psikologis penyimak. Kerangka atau frame berbagai pengetahuan tentang ‘dunia’ tersebut terdiri atas kelompok slots konsep/pengertian/fakta yang tersusun berdasarkan klasifikasi tertentu. Proses jenis ini digunakan oleh penyimak apabila ia memiliki latar belakang pengetahuan dan penguasaan bahasa yang memadai dan apabila ada isyarat-isyarat dalam teks yang dapat mengaktifkan skemata.
Di samping proses bottom up dan top down, Richards juga menyarankan untuk memasukkan dimensi fungsional dalam pembelajaran menyimak. Proses interaksional dari Brown dan Yule (1983) sesuai dengan saran ini, karena tekanan utamanya adalah mempertahankan hubungan sosial antara penyimak-pembicara (siswa-guru) dan penyimak-penyimak (siswa-siswa) dengan memasukkan background knowledge atau skemata siswa.
3 Pembelajaran Menyimak di Sekolah Dasar
a. Materi Pembelajaran Menyimak SD
Materi pembelajaran menyimak di SD meliputi ragam wacana lisan nonfiksi dan fiksi. Adapun materi pembelajaran menyimak di kelas tinggi, yaitu teks berisi petunjuk tentang pembuatan sesuatu, gambar/tanda-tanda lalu lintas, teks cerita (yang mengandung watak beberapa tokoh cerita) teks drama anak, denah, cerita pengalaman, teks pengumuman, pantun anak, penjelasan narasumber, teks pesan untuk disampaikan pada orang lain, teks cerita rakyat, cerita pendek anak, berita televisi atau radio, dan cerita anak. Materi pembelajaran menyimak tersebut haruslah memupuk jiwa dan moral pancasila, sesuai dengan taraf perkembangan siswa, dan bermakna bagi siswa. Selain itu, harus sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan bahan-bahan pelajaran yang terdapat di GBPP, yaitu (1) dari yang konkret ke yang abstrak, (2) dari yang mudah ke yang sukar, (3) dari yang sederhana ke yang rumit/ kompleks, dan (4) dari yang dekat ke yang jauh (Depdikbud, 1994:10).
Ada berbagai pertimbangan dalam menyediakan materi simakan cerita bagi anak-anak usia sekolah dasar. Secara umum, penyediaan bahan simakan/bacaan harus memperhatikan (1) bahasa yang digunakan; (2) penokohan, peristiwa, rangkaian cerita; serta (3) cara penyajian dan gaya penuturan (Aminuddin, 1995:2).
Ditinjau dari bahasa yang digunakan, pertimbangan mengacu pada penguasaan kosakata dan struktur kalimat anak-anak. Kata-kata yang digunakan sebaiknya sesuai dengan situasi yang nyata dan disesuaikan dengan keadaan lingkungan anak itu. Bila ada kada-kata yang masih asing bagi anak, sebaiknya guru menerangkan dengan gambar atau paparan deskriptif sebagai ilustrasi.
Pemilihan materi pembelajaran perlu memperhatikan hal berikut. Ditinjau dari penokohan, pelaku yang ditampilkan harus relatif jelas. Begitu juga motivasi dan peran yang diemban perlu digambarkan secara jelas. Peristiwa yang diceritakan harus menunjukkan hubungan sebab akibat secara jelas. Cerita seharusnya lebih digambarkan secara hidup dan menarik. Pertimbangan menyangkut cara penyajian dan gaya penuturan akan berhubungan dengan pemilihan kata, penggunaan gaya bahasa, teknik penggambaran pelaku dan latar. Menurut Farris (1993:132-133), materi pembelajaran cerita adalah cerita yang dekat/akrab dengan kehidupan anak, pernah didengar, rangkaian ceritanya mudah diikuti, dan temannya cocok dengan usia anak. Cerita yang dipilih hendaknya mengandung pelaku yang dapat dipercaya, awal dan akhir suatu cerita harus tetap menarik dan simpulan akhir harus dekat dengan anak. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip pengembangan bahan pelajaran yang terdapat pada GBPP.
b. Metode Pembelajaran Menyimak
Beberapa metode pembelajaran menyimak, yaitu:.
1) Memperluas kalimat
Guru melisankan sebuah kalimat. Siswa mengucapkan kembali kalimat tersebut. Guru mengucapkan kembali kalimat tadi dan mengucapkan pula kata atau kelompok kata lainnya. Siswa melengkapi kalimat pertama dengan kata atau kelompok kata.
2) Bisik Berantai
Guru membisikkan suatu pesan kepada seorang siswa. Siswa tersebut membisikkan pesan itu kepada siswa kedua . Siswa kedua membisikkan pesan tersebut kepada siswa ketiga. Begitu seterusnya . Siswa terakhir menyebutkan dengan suara yang jelas didepan kelas. Guru memeriksa apakah pesan tersebut benar-benar sampai kepada siswa terakhir apa tidak.
3) Identifikasi kata kunci
Kalimat yang panjang dapat dipendekkan dengan jalan menghilangkan kata-kata yang bukan merupakan inti. Kata ‘ kata yang tidak mungkin dihilangkan’ inilah yang disebut dengan kata kunci.
4) Identifikasi kalimat topik
Inti sebuah paragraf adalah sebuah kalimat topik. Paragraf dibangun oleh sebuah kalimat topik beserta sejumlah kalimat penjelas. Kalimat topik mungkin terletak pada awal paragraf atau pada akhir paragraf. Sekali-kali ditemui juga pada bagian tengah paragraf.
5) Menjawab Pertanyaan
Latihan menjawab pertanyaan berdasarkan bahan simakan sangat menunjang pengembangan ketrampilan menyimak. Ada lima pertanyaan yang perlu diketengahkan yakni siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan, mengapa hal itu dibicarakan, di mana hal itu dibicarakan, dan bila hal itu dibicarakan. Dalam taraf permulaan cukup menjawab satu saja pertanyaan yang dilatihkan. Bila siswa sudah terlatih baru semua pertanyaan diajukan dan dijawab.
6) Merangkum
Merangkum atau menyingkat isi bahan simakan berarti menyimpulkan isi bahan simakan secara singkat. Siswa mencari inti sari dari bahan yang dilisankan. Bahan yang dilisankan dapat berupa wacana, paragraf, atau cerita-cerita yang pendek.
7) Parafrase
Parafrase berarti beralih bentuk. Dalam pengajaran bahasa, biasanya diwujudkan dalam bentuk memprosakan puisi. Kadang-kadang ditemui juga mempuisikan prosa.
4 Kegiatan
Rancanglah RPP pembelajaran menyimak di kelas rendah atau di kelas tinggi SD!
5 Latihan
1. Rancanglah pembelajaran menyimak dengan strategi inovatif atau memasukkan unsur permainan di dalamnya!
2. Rancanglah instrumen evaluasi pembelajaran menyimak sebagai evaluasi hasil dan evaluasi proses!

Modul 2
Pembelajaran Membaca di  SD
1 Pengertian Membaca
Downing mendefinisikan bahwa membaca merupakan kegiatan menerjemahkan simbol-simbol tulis ke dalam bunyi. Kegiatan yang baru sampai pada penerjemahan terhadap simbol-simbol tulis menunjukkan bahwa membaca belum sampai pada kegiatan pemerolehan makna dari apa yang dibaca. Kegiatan membaca semacam itu baru sampai pada tahap belajar membaca.
Para ahli lain memberikan pengertian bahwa membaca merupakan (1) pengembangan keterampilan, mulai dari keterampilan memahami kata-kata, kalimat, paragraf-paragraf dalam bacaan sampai dengan pemahaman secara kritis dan evaluatif keseluruhan isi bacaan, (2) kegiatan vital yang berupa serangkaian gerakan mata dalam mengikuti baris-baris tulisan, pemusatan penglihatan pada kata dan kelompok kata, melihat ulang kata dan kelompok katauntuk memperoleh pemahaman terhadap bacaan, (3) kegiatan mengamati dan memahami kata-kata yang tertulis dan memberikan makna terhadap kata-kata tersebut berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dipunyainya, (4) suatu proses berpikir yang terjadi melalui proses mempersepsi dan memahami informasi serta memberikan makna terhadap bacaan, (5) proses pengolahan informasi yang dilakukan oleh pembeca dengan menggunakan informasi dari bacaan dengan pengetahuan dan pengelaman yang relevan dengan informasi tersebut yang telah dimiliki sebelumnya oleh pembaca, (6) proses menghubungkan tulisan dengan bunyinya sesuai denga sistim tulisan yang digunakan, dan (7) kemampuan mengantisipasi makna terhadap baris-baris dalam tulisan.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa membaca merupakan kegiatan yang melibatkan pisik dan psikis yang oleh Anderson disebut sebagai proses recording dan decoding. Melalui recording, pembaca mengasosiasikan lambang-lambang bunyi beserta kombinasinya dengan bunyi-bunyi. Dengan proses itu rangkaian tulisan yang dibacanya menjilma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna. Di samping lambang-lambang bunyi, pembaca juga mengamati tanda-tanda baca yang harus dikenalinya juga karena tada-tanda baca tersebut membantu pembaca memahami maksud dari baris-baris tulisan dalam proses decoding. Melalui proses decoding, gambar-gambar bunyi dan kombinasinya itu diidentifikasi, diuraikan, dan diberi makna. Proses decoding berlangsung dengan melibatkan knowlidge of the world dalam skemata yang merupakan hasil katagorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan (Syafie, 1999).
Dalam proses membaca, pembaca yang baik selalu berupaya mengaktifkan skema yang telah dimilikinya yang berhubungan dengan teks. Pengaktifan dilakukan dengan mengaitkan tema, topik, judul, dan ilustrasi dengan pengetahuan awal atau skema. Skema seseorang merupakan gambaran pengetahuannya yang meliputi pengalaman langsung, pengalaman tak langsung, dan latihan-latihan (Rummelhart dalam Jalongo, 1992: 252).
Pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam teks merupakan informasi bagi pembaca. Informasi yang diterima oleh pembaca dimasukkan ke dalam gudang pengharapan (expectations), kemudian dikodekan atau diubah ke dalam sistim memori individu. Seperangkat pengharapan tersebut akan memandu pengkodean informasi dan pencarian kembali informasi tersebut (Anderson dalam Spodek dan Saracho, 1994: 337).
Skemata adalah konsep-konsep, keyakinan, pemgharapan pembaca, dan proses-proses yang terdiri dari pengalaman-pengalaman yang digunakan untuk membentuk makna, benda, atau kegiatan. Dalam membaca, skemata berguna untuk membentuk makna teks, membangkitkan ingatan terhadap pengalaman pembaca, seperti halnya pengalaman masa lalu yang memiliki hubungan potensial dengan informasi tertentu (McNeil, 1992: 19). Sedangkan Rummelhart menjelaskan bahwa skemata merupakan bagian dari keseluruhan skema yang berhubungan dengan situasi atau hal tertentu (Jalongo, 1992: 252).
2 Level-level Pemahaman
Dalam membaca pemahaman diharapkan dapat diperoleh pemahaman pemahaman yang sebaik-baiknya mengenai isi apa yang dibaca. Herber dan Nelson dalam Eanes (1997) membagi level pemahaman menjadi tiga level, yakni level literal, interpretive, dan applied.
Pemahaman yang berlevel literal adalah pemahaman yang berupa pemerolehan informasi sebagaimana yang dikemukakan oleh penulis dalam teks. Pembaca yang memperoleh pemahaman yang berlevel literal menerima informasi yang parsis sama dengan apa yang tertulis dalam teks. Level pemahaman semacam ini bermanfaat untuk mencapai level memahaman yang lebih tinggi.
Pemahaman yang berlevel interpretive adalah pemahaman yang diperoleh melalui proses penapsiran-penapsiran terhadap gagasan-gagasan atau informasi yang terdapat dalam teks. Dengan kata lain pemahaman yang berlevel interpretive mengacu pada proses menentukan maksud dari apa yang tertulis dalam teks atau mengacu pada penemuan pesan implisit dari teks. Pemerolehan pemahaman ini mengharapkam pembaca agar melakukan analisis terhadap berbagai informasi dari pemahaman literal.
Pemahaman yang berlevel applied adalah pemahaman yang diperoleh melalui proses sintesis dari berbagai gagasan dan informasi yang bersumber dari dalam teks dan dari luar teks. Dengan mengadakan sitesis tersebut pembaca sudah memperoleh simpulan dari apa yang dibaca. Agar diperoleh pemahaman ini pembaca dituntut untuk mengadakan pengombinasian antara informasi dari teks dan skemata pembaca.
3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Membaca
Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap proses membaca. Faktor-faktor tersebut adalah faktor pembaca, faktor teks, dan faktor kontekstual.
a Faktor Pembaca
Pandangan interaktif menunjukkan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi proses membaca yang meliputi pengetahuan latar, pengetahuan tentang membaca, dan motivasi-sikap membaca.
Pengetahuan latar pembaca dapat berupa pengetahuan tentang berbagai peristiwa, gagasan, atau benda-benda yang dikemukakan dalam bacaan. Pengetahuan tersebut berpengaruh terhadap makna yang dibentuk dari teks oleh pembaca. Pengetahuan tentang membaca merupakan pemahaman pembaca terhadap proses membaca yang tercermin dalam dua hal. Pertama, melibatkan sifat dasar membaca, misalnya bertujuan, melibatkan faktor-faktor yang mempengaruhi proses membaca, dan memilih strategi tertentu dalam membaca. Kedua, melakukan tindakan-tindakan yang berbeda untuk tujuan-tujuan membaca yang berbeda, misalnya dalam membaca yang intensif dan ekstensif.
Pembaca yang terampil memiliki karakteristik sebagai berikut, (1) tahu akan tujuan membaca, yakni untuk memperoleh makna yang lebih dari apa yang tertulis dalam teks, (2) memahami bahwa membaca akan lebih mudah apabila tahu banyak dan tertarik terhadap topik bacaan, (3) paham terhadap berbagai faktor teks yang mempengaruhi kegiatan membaca, (4) tahu bahwa tugas-tugas yang diberikan oleh teks dapat mempengaruhi pemilihan strategi dan penggunaannya, (5) memiliki pengetahuan dan kemampuan menggunakan berbagai strategi membaca, dan (6) mampu mengatur dan memonitor aktivitas membacanya.
b Faktor Teks
Faktor-faktor teks berpengaruh kuat terhadap kuantitas maupun kualitas pemahaman pembaca terhadap isi teks. Oleh karena itu ada teks yang digambarkan sebagai teks yang baik dan ada pula teks yang jelek. Teks yang baik adalah teks yang memungkinkan pembaca dapat mengumpulkan informasi secara tepat dengan mudah atau dengan upaya minimal. Teks yang jelek digolonglkan sebagai teks yang pembacanya memerlukan usaha ekstra agar dapat menutupi kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam teks. Beberapa katagori berikut dapat digunakan untuk menentukan baik dan jeleknya suatu teks.
1) Tipe dan Pengorgasisasian
Pemahaman siswa terhadap kata-kata berubah-ubah akibat dari tipe dan/atau organisasi teks yang berbeda. Sebagai contoh, adanya kesalahan pengucapan yang berubah-ubah sesuai dengan teks yang dibacanya (cerita versus artikel informasional). Bagi kebanyakan anak, cerita lebih mudah dipahami daripada teks informasional. Demikian pula cerita yang tersusun lebih baik akan lebih mudah dipahami daripada cerita yang tersusun kurang baik.
2) Sifat Kebahasaan
Sifat kebahasaan mencakup penggunaan kata, sturktur kalimat, dan hubungan antarkalimat. Penggunaan unsur-unsur tersebut dengan baik dapat mempengaruhi prestasi yang dicapai dalam membaca. Sebagai contoh, teks yang sebagian besar kata-katanya berfrekuensi tinggi dalam pemakaian bahasa sehari-hari akan lebih mudah dipahami daripada teks yang kata-katanya berfrekuensi rendah.
3) Struktur Perwajahan
Struktur perwajahan teks meliputi apa yang digunakan oleh penulis atau editor untuk membantu pengorganisasian dan pemahaman pembaca, misalnya penonjolan bagian yang dianngap penting, penebalan huruf, adanya berbagai ilustrasi, diagram, berbagai aktivitas, dan pertanyaan-pertanyaan atau tugas pada akhir bab. Pemahaman akan meningkat apabila pernyataan gagasan utama dinampakkan sebagai hal yang penting dengan menggunakan bentuk huruf tertentu yang berbeda dengan yang lain. Sebaliknya, apabila struktur perwajahan teks terfokus pada informasi-infarmasi yang sepele, maka siswa akan secara aktual memperhatikan gagasan-gagasan yang sepele pula. Sebagai contoh, jika pertanyaan-pertanyaan atau tugas yang terkait dengan teks lebih terfokus pada pada detail-detail yang tidak signifikan, maka siswa akan lebih berkemungkinan mempelajari detail-detail tersebut daripada gagasan-gagasan yang penting dari teks.
c Faktor Kontekstual
Faktor kontekstual yang berpengaruh terhadap proses dan prestasi membaca meliputi (1) tujuan atau tugas yang terkait dengan bacaan, (2) setting membaca, dan (3) konteks pembelajaran.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kekurangmampuan Membaca
Ada empat hal utama yang dianggap mempunyai hubungan dengan kurangnya prestasi membaca, yakni (1) perkembangan pisik, (2) perkembangan kognisi, (3) perkembangan bahasa, dan (4) perkembangan sosial dan emosional.
a. Kondisi Pisik
Perkembangan pisik yang dimaksud dalam hal ini antara lain perkembangan pendengaran, penglihatan, kesehatan secara umum, dan kematangannya. Ada bebrapa tipe gangguan pendengaran, misalnya sulit mendengarkan bunyi-bunyi tertentu dan ada pula gangguan yang menyebabkan kesulitan mendengarkan segala bunyi. Oleh karena kemampuan membaca didasari olek kemampuan mendengarkan dan berbicara, maka anak yang mengalami gangguan pendengaran akan kurang beruntung dalam belajar membaca.
Gangguan penglihatan ada bebrapa tipe. Rabun jauh atau rabun dekat akan menimbulkan gangguan yang serius dalam aktivitas membaca, apabila tidak segera ditanggulani dengan baik. Sebenarnya belum ada bukti yang cukup untuk membuat keputusan tentang korelasi antara problem ketajaman penglihatan, kurangnya koordinasi otot mata, dan kemampuan membaca.
b Perkembangan Kognisi
Perkembangan kognisi meliputi perkembangan dalam hal kemampuan memahami, memperhatikan, mengingat, intelegensi, dan kemampuan verbal. Beberapa faktor perkambangan kognisi berikut berpengaruh terhadap prestasi membaca.
1) Intelegensi
Intelegensi merupakan kemampuan menguasai perbendaharaan kata, hitungan, pemecahan masalah, dan konsep-konsep. Dengan intelegensinya, seseorang akan mampu menggunakan pengalamannya untuk mempelajari informasi baru dan menyesuaikan diri dengan situasi yang baru pula (dworetzky, 1990). Kemampuan yang mengidentifikasikan intelegensi yang tinggi antara lain kemampuan memperoleh penguasaan dengan cepat dalam belajar, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan menggunakan pikiran dalam level yang tinggi. Banyak hasil penelitian yang menyatakan bahwa antara intelegensi dan prestasi membaca terdapat korelasi yang tinggi.
2) Kemampuan Memproses Informasi
Kemampuan meproses informasi dalam bentuk lisan maupun tertulis diasosiasikan dengan kemampuan memelajari dan memahami sesuatu. Kekuatan kemampuan tersebut dipengaruhi oleh perhatian, persepsi, dan daya ingat. Kemampuan dan kemauan memberikan perhatian terhadap stimuli tertentu merupakan faktor yang penting bagi keberhasilan dalam belajar. Dalam suatu teks bacaan atau lingkungan terdapat berbagai stimuli. Siswa yang tidak dapat memperhatikan bagian bacaan atau bagian tertentu dari suatu lingkungan yang berisi informasi esensial tidak akan dapat mempelajari atau mendapatkan keterampilan dan informasi baru (Lipson & Wixson, 1991).
c Perkembangan Bahasa
Dalam belajar bahasa, siswa mengembangkan kemampuannya untuk memahami dan memproduksi bahasa. Pengembangan tersebut meliputi belajar menyusun bahasa dan penggunaannya dalam berkomunikasi. Kemampuan berbahasa anak bervariasi. Pada umumnya anak yang memiliki kemampuan berbahasa yang baik yang diperoleh dari kebiasaan komunikasinya dengan menggunakan bahasa sehari-hari mereka. Anak yang kacau kemampuan berbahasanya atau perkembangan bahasanya belum sampai pada tingkat kebahasaan yang digunakan dalam bacaan dimungkinkan akan mengalami kesulitan dalam membaca. Salah satu faktor yang mungkin menyebabkan kegagalan siswa dalam belajarnya adalah kurangnya kemampuan siswa menggunakan bahasa yang digunakan dalam teks.
d Perkembangan Sosial dan Emosional
Siswa yang mengalami kesulitan menghadapi kebervariasian situasi sosial, baik dengan teman maupun dengan orang-orang dewasa dimungkinkan akan mengalami kesulitan akademis. Siawa yang mengalami problem sosial juga dimungkinkan akan mengalami kesulitan berkonsentrasi di sekolah atau berkonsentrasi dalam belajar. Kurangnya kemampuan berkonsentrasi tentu tentu akan berakibat negatif terhadap prestasi belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa problem sosial dan emosional memberikan kontribusi terhadap lebih kurang 25 % kasus ketidakmampuan membaca. Pada umumnya setiap pembaca yang lemah memiliki resiko gangguan psikologis. Meskipun secara pasti belum dapat ditunjukkan adanya korelasi antara kelemahan membaca dan kesulitan emosional dan sosial, sebagian besar siswa yang mengalami kesulitan membaca memiliki problem sosial dan emosional (Lipson & Wixson, 1991).
5 Model-Model Membaca
Aktivitas membaca memerlukan dua hal penting, yakni mengenal kata-kata yang tertulis dan memahami apa yang ditulis. Banyak guru dan siswa yang beranggapan bahwa membaca adalah melakukan tindakan mengenali huruf, kata sambung, kata-kata, dan kalimat-kalimat. Anggapan semacam itu akan melahirkan bodel tertentu dalam membaca. Ada beberapa model membaca yang perlu dikenal. Di antaranya adalah model botto-up, top-down, dan model interaktif. Munculnya ketiga model tersebut dilatari oleh adanya pandangan bottom-up dan top-down terhadap proses membaca.
a. Model Membaca Bottom-up
Membaca dengan menggunakan model bottom-up adalah membaca yang dimulai dari pengenalan dan pemahaman terhadap apa yang terdapat dalam teks, kemudian dilakukan pengaitan antara isi teks dan pengetahuan atau pengalaman sehingga diperolehlah makna. Dari teks, pembaca mulai dapat mengenali dari unit-unit yang paling kecil sampai dengan yang paling besar. Dalam hal ini membaca dimulai dari mengenali huruf, bunyi, makna kata, kelompok kata, kalimat-kalimat, paragraf, dan makna keseluruhan bacaan kemudian mengaitkannya dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Model membaca ini dilahirkan oleh pandangan bahwa membaca merupakan proses penglihatan, sedangkan makna sudah terdapat dalam teks (Lipson & Wixson, 1991: 7).
Model membaca bottom-up sangat cocok untuk pembaca yang baru pada tahap belajar membaca. Model ini memiliki beberapa karakteristik, yakni (1) membaca dipandang sebagai peoses penglihatan, (2) makna terletak dalam teks, (3) berproses dari bagian-bagian yang terkecil (huruf dan bunyi) sampai dengan bagian yang terbesar (makna), dan (4) berangkat dari pendekatan skills-based ke pengajaran.
b. Model Membaca Top-down
Model top-down merupakan kebalikan dari model bottom-up. Model membaca bottom-up didasari oleh pandangan bahwa membaca merupakan proses penglihatan dengan makna yang sudah tersedia dalam teks. Sedangkan model membaca top-down didasari oleh pandangan bahwa membaca merupakan proses kebahasaan atau proses psikolinguistik dengan makna yang berada pada dan dibentuk oleh pembeca.
Membaca yang menggunakan model top-down dimulai dengan mengaktifkan skemata (pengetahuan dan pengalaman) yang telah dimilikinya untuk memprediksi makna, kemudian pembaca melakukan kegiatan membaca teks untuk mengkonfirmasi makna yang telah dibentuknya. Oleh karena itu membaca dengan model top-down dikatakan sebagai aktivitas yang dimulai dari unit yang terbesar (makna), kemudian menuju pada unit-unit yang lebih kecil (huruf dan bunyi). Model ini memiliki beberapa karakteristik, yakni (1) membaca dalah proses kebahasaan, (2) makna terdapat pada pembaca, (3) dimulai dari keseluruhan (makna hasil prediksi), kemudian menuju ke bagian-bagian, dan (4) berangkat dari pendekatan whole language.
c. Model Membaca Interaktif
Banyak peneliti yang berkesimpulan bahwa membaca tidak dapat dilakukan model bottom-up atau top-down secara murni, melainkan dilakukan secara interaktif antara model bottom-up dan top-down. Penggunaan kedua model tersebut terjadi secara simultan. Makna yang didapat oleh pembaca merupakan hasil interaksi antara pembaca dan teks.
Rumelhart dalam Lipson dan Wixson (1991) mengemukakan bahwa membaca merupakan proses interaktif antara teks dan pembaca. Hal itu menunjukkan bahwa pemrosesan teks berlangsung sangat fleksibel terhadap pengaruh informasi-informasi dari sumber lain yang telah dimiliki oleh pembaca. Model interaktif ini memperlihatkan bahwa (1) membaca merupakan proses kognitif, (2) makna merupakan hasil interaksi antara pembaca dan teks, dan (3) proses membaca dilakukan dari keseluruhan ke bagian-bagian dan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Sebagai contoh, apabila ada kalimat yang tertulis “Saya melihat Taman Mini berkunjung ke Jakarta”, maka pembaca yang baik akan beranggapan bahwa kalimat tersebut salah cetak, karena tidak mungkin Taman Mini berkunjung ke Jakarta. Dengan dasar itu kemudian pembaca memprediksi atau memanipulasi bunyi kalimat yang sebenarnya.
6 Strategi Membaca
a. Strategi K-W-L
Strategi ini diciptakan oleh Ogle (1986) untuk membantu para guru agar dapat mengaktifkan pengetahuan latarnya (skematanya) dan meningkatkan kemenarikan topis dalam teks terhadap siswa. Strategi ini lebih tepat digunakan pada kelas V dan VI. Hal ini disebabkan oleh adanya kegiatan menginterpretasi makna yang terdapat dalam teks dan penyusunan rangkuman hasil membaca yang berisi kombinasi antara isi bacaan dan skemata siswa. Kegiatan semacam itu akan lebih mudah dilaksanakan oleh anak yang perkembangan kognisinya telah sampai pada periode operasional formal, yakni antara siswa kelas V s.d. kelas VI. Dengan strategi ini kegiatan pembelajaran dibagi menajdi tiga tahapan:
Pertama, tahap K (What I Know). Pada tahap ini siswa diajak bercurah pendapat tentang tema, topik, judul, dan ilustrasi atau gambar-gambar yang terdapat dalam teks. Dengan aktivitas itu skemata pembaca menjadi aktif kembali, sehingga pemahaman akan lebih mudah dicapai oleh pembaca. Di samping itu guru juga mengaktifkan skemata siswa tentang bahasa yang digunakan dalam teks. Pengaktifan skemata bahasa dilakukan dengan mengangkat berbagai istilah, kata, frase, atau kalimat yang merupakan kunci dalam memahami isi yang terkandung dalam teks bacaan.
Kegiatan tahap K ini akan menghasilkan sebuah jaring laba-laba. Isi jaring laba-laba ini mencakup tema, topik-topik, sub-subtopik, serta beberapa detail dari subtopik yang dipandang perlu. Curah pendapat tidak perlu sampai pada semua detail dari setiap subtopik yang ada, karena akan terlalu banyak menyita waktu. Agar penyusunan jaring laba-laba berjalan lancar,guru perlu terlebih dahulu merancangnya secara lengkap dan luas sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Kedua, tahap W (What I Want to learn). Pada tahap ini guru mengidentifikasi berbagai hal yang bagi siswa merupakan hal yang menarik, kurang dipahami, meragukan, atau menjadi silang pendapat. Dari hal-hal tersebut guru menyusun sejumlah pertanyaan yang merupakan tujuan dari kegiatan siswa membaca. Dari hasi beberapa kali penelitian, akan lebih praktis apabila sejumlah pertanyaan tersebut disusun sebelum pembelajaran, karena apabila disusun dalam pembelajaran akan menyita waktu yang lebih banyak. Apa bila ada tambahan pertanyaan, guru tinggal menambahkannya.
Dengan fase ini aktivitas membaca menjadi aktivitas yang bertujuan dan pikiran siswa akan lebih terfokus pada hal-hal yang hendak dicarinya dalam teks. Tanpa adanya tujuan yang hendak dicari, pikiran siswa akan bias, sehingga sulit merekam informasi-informasi penting yang terdapat dalam teks. Tahap ini dapat juga dikatakan sebagai tahap untuk meningkatkan keingintahuan siswa terhadap informasi-informasi yang akan disampaikan penulis melalui teks.
Ketiga, tahap L (What I Learned). Pada tahap ini siswa dipersilakan membaca teks yang telah ditentukan sambil berpedoman pada sejumlah pertanyaan yang telah diterimanya. Siswa perlu dibimbing untuk dapat mengidentifikasi informasi penting yang terkait dengan sejumlah pertanyaan yang ada, misalnya dengan cara menggarisbawahi bagian-bagian yang dianggap penting. Guru juga perlu memberikan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan terhadap kata atau istilah yang digunakan dalam teks.
Kegiatan dilanjutkan dengan meminta siswa menyususun ringkasan isi bacaan. Apabila pertanyaan yang telah diterima siswa memuat permasalahan dalam bacaan secara detail, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah dapat dianggap sebagai ringkasan isi bacaan, asalkanjawaban disusun dengan kalimat yang lengkap.
Terhadap siswa yang kurang mampu menyusun kalimat dengan benar, guru perlu memberikan bantuan kepadanya dengan menggunakan teknik thinking aloud. Dengan teknik ini guru memberikan contoh dengan memperlihatkan proses penyusunan ringkasan mulai dari proses berpikir, proses penemuan permasalahan yang hendak ditulis, sampai dengan proses penyusunan kalimatnya.
b. Strategi D-R-A (Directed Reading Activity)
Strategi DRA atau Strategi Aktivitas Membaca Terbimbing disusun oleh Betts (1946). Strategi ini disusun untuk memberikan bimbingan dalam pembelajaran membaca dan lebih sesuai untuk kelas tinggi awal (kelas III dan VI), karena strategi ini tidak terlalu menuntut siswa untuk melakukan prediksi terhadap isi bacaan. Melalui strategi ini siswa akan dihadapkan pada tiga tahapan, yaitu (1) tahap persiapan sebelum membaca, (2) pemberian bimbingan selama membaca dalam hati, dan (3) pengecekan pemahaman dan keterampilan. Ketiga tahapan tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa dalam strategi DRA ada tahap (1 )pramembaca, (2) membaca dalam hati, dan (3) tahap pascamembaca.
c. Strategi DR-TA (Directed–Reading–Thinking–Aktivity)
Strategi DR-TA atau Strategi Membaca-Berpikir Terbimbing merupakan variasi dari strategi DRA. Strategi DR-TA memiliki beberapa kelebihan apabila dibandingkan dengan DRA. Pertama, memberikan bantuan dan kesempatan kepada siswa untuk membuat berbagai prediksi yang dapat digunakan sebagai tujuan membaca. Dengan berprediksi ini siswa berlatih berspekulasi. Prediksi terhadap bacaan fiksi dapat diarahkan pada kronologi peristiwa dalam cerita. Kedua, memberikan penekanan membaca sebagai proses berpikir melalui kegiatan memprediksi dan langkah-langkah selanjutnya. Ketiga, memberikan model bimbingan pemecahan masalah.
Melalui strategi ini siswa dituntut untuk dapat memberikan perdiksinya tentang kemungkinan-kemungkinan isi bacaan dengan memperhatikan judul, sub-subjudul, dan ilustrasi ayau gambar-gambar yang menyertai bacaan. Tentu, strategi ini lebih sesuai jika digunakan untuk pembelajaran membaca pemahaman di kelas V dan VI, mengingat pada umumnya siswa pada kelas-kelas tersebut sudah berada pada perkembangan kognisi operasional formal.
Tahap-tahap yang terdapat dalam strategi DR-TA sama dengan tahapan yang terdapat pada strategi DRA. Tahapan tersebut adalah (1) tahap pramembaca, (2)Â membaca dalam hati, dan (3) pascamembaca.
Kegiatan
1. Susunlah rencana pembelajaran membaca pemahaman untuk kelas III atau kelas IV dengan menggunakan strategi DRA, kemudian implementasikan dalam simulasi pembelajaran.
2. Susunlah rencana pembelajaran membaca pemahaman untuk kelas V atau kelas VI yang menggunakan strategi di bawah ini, kemudian implementasikan dalam simulasi pembelajaran.
1. Strategi K-W-L
2. Strategi DR-TA
Latihan
1. Jelaskan pengertian membaca!
2. Sebutkan dan jelaskan factor-faktor yang mempengaruhi membaca!
3. Sebutkan dan jelaskan strategi-strategi pembelajaran membaca!

Modul 3
Pengajaran Berbicara di SD
1 Hubungan Kompetensi Berbicara dengan Kompetensi yang Lain
Berbicara merupakan salah satu dari empat aspek kompetensi berbahasa. Secara keseluruhan keempat aspek tersebut adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Cox (1999) mengemukakan bahwa antara aspek yang satu dengan aspek yang lain terdapat saling keterkaitan. Kemampuan berbicara mendapatkan kontribusi penting dari tiga kompetensi lainnya.
Kontribusi yang diperoleh dari aktivitas menyimak, antara lain bunyi-bunyi ujaran, kosa kata, istilah, kaidah penggunaan bahasa lisan, berbagai informasi, dan lain-lainnya. Perolehan dari aktivitas menyimak itu sangat bermanfaat bagi peningkatan kemampuan berbicara.
Bunyi-bunyi ujaran yang diperoleh dari menyimak akan menjadi contoh (pajanan) bagi bayi (anak) yang baru belajar berbahasa. Dengan bunyi-bunyi itu anak akan menirukannya, kemudian menguasainya menjadi tuturan. Gangguan saraf pendengaran akan mengakibatkan terganggunya kemampuan berbicara. Sebagai contoh, anak yang tuli akan mengakibatkannya menjadi bisu. Pada umumnya anak yang bisu disebabkan oleh telinganya yang tuli.
Kemampuan berbicara mendapatkan kontribusi dari aktivitas membaca. Dari aktivitas membaca akan diperoleh berbagai gagasan dan pengetahuan yang dapat digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan teks pidato atau percakapan tentang topic tertentu. Salah satu contohnya adalah guru yang akan menyamapaikan bahan ajar kepada siswanya perlu membaca berbagai sumber yang memadai, misalnya buku teks, buku-buku lain yang terkait, media cetak, dan media media elektronik (internet). Dengan berbagai sumber tersebut, isi pidato atau percakapan menjadi lebih berbobot.
Kemampuan berbicara, terutama berpidato memerlukan kemampuan menulis, khususnya bagi orator/penceramah pemula. Dalam hal ini uraian pidato perlu ditulis lebih dahulu, dibaca berulang-ulang, direvisi, dibaca ulang, dan diinternalisasi, sehingga isi pidato telah dikuasainya dengan baik. Penguasaan yang baik ini masih perlu didukung dengan teknik yang baik pula.
2 Berbagai Fenomena Pembicara di Depan Umum
Ada beberapa fenomena yang terjadi ketika seseorang menyampaikan pidatonya di depan umum, yaitu:
a. Berpusat pada Diri Sendiri
Fenomena ini sering terjadi pada pembicara pemula. Pada waktu penyampaian pidato, perhatian pembicara lebih terfokus pada hal-hal yang terkait dengan diri sendiri. Hal-hal tersebut. Misalnya penampilan diri, suara diri, kelancaran bicara, dan teknik yang digunakannya. Dalam hal ini sang pembicara terlalu sibuk dengan diri sendiri, yakni tentang bagaimana penampilan (gaya) yang digunakan, misalnya mencakup gerak dan sikap, suara dan irama yang digunakannya, pakaian yang sebaiknya dikenakannya, dan lain-lainnya. Pembicara yang masih menampakkan fenomena ini sering diliputi oleh perasaan takut berperilaku salah. Perasaan semacam itu akan memacu munculnya demam panggung atau rasa grogi.
b. Berpusat pada Pesan
Orator atau penceramah yang berpusat pada pesan lebih mengutamakan keutuhan pesan. Istilah yang digunakannya tetap dipertahankan keasliannya sesuai dengan sumbernya. Bahasa buku merupakn bahasa ilmuwan, sedangkan audiens sering bersifat awam terhadap bahasa buku. Sebagai contoh, ceramah ilmiah. Dalam ceramah ilmiah, penceramah tetap menggunakan bahasa ilmiah dan berbagai istilah teknis sesuai dengan bidang ilmunya, meskipun sebagian audiennya mengalami kesulitan untuk memahaminya. Seharusnyalah bahwa orator atau penceramah berfungsi sebagai jembatan penghubung antara sang ilmuwan dan audiens. Pidato yang berpusat pada pesan akan sulit dipahami oleh audiensnya.
c. Berpusat pada Pendengar
Pidato yang disampaikan disesuaikan dengan pembicaranya. Penyesuaian dilakukan dalam berbagai segi, misalnya bahasa, kedalam dan keluasan analisis materi, harapan, impian, dan gaya penyampaian. Sebagai contoh, seorang guru yang akan menyampaikan sebuah tema yang sama untuk tingkat kelas yang berbeda, tentu perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian, agar materi yang disampaikannya dapat dicerna oleh siswa. Demikian pula apabila tema tersebut disampaikan kepada masyarakat pedesaan, tentu perlu dilakukan penyesuaian, baik bahasa, fokus uraian, maupau gaya penyampaiannya.
3. Persiapan Pidato
Agar pidato dapat disampaikan dengan baik, diperlukan langkah-langkah persiapan sebagai berikut.
1. Memilih Topik: Topik yang dipilih hendaknya merupakan masalah yang masih hangat, menyangkut kepentingan orang banyak, dan sesuatu yang masih controversial di masyarakat.
2. Analisis Kreatif: Berusaha memahami topic, melakukan inkubasi (mengendapkan dan memikirkan sampai dengan ditemukannya pemecahan), iluminasi (penemuan kejelasan pengembangan materi pidato), verifikasi (pengecekan dengan cermat terhadap topic dan ide-ide pengembangnya), dan mendisiplinkan kreativitas (konsistensi ide-ide, merancang tenggat waktu penyelesaian penulisan dan penguasaan, serta melakukan secara disiplin penulisan disertai keyakinan bahwa inspirasi hanya bermanfaat 10%, sedangkan selebihnya adalah upaya keras).
4. Sifat-sifat Umum Pendengar Pidato
a. Kelompok kecil menghendaki gaya nonformal, misalnya gaya penyampaian tidak perlu retorika yang tinggi, penyampaian lebih bersifat dari hati ke hati, suara cukup nyaring untuk didengra oleh kelompok kecil, dan paparannya berisi problematika beserta upaya pemecahan secara rinci.
b. Kelompok besar sering menghendaki gaya formal. Pidato dalam kelompok besar diperlukan retorika yang tinggi. Dalam retorika yang tinggi, pidato sering disampaikan secara global, cakupan materinya luas, dan tidak rinci.
c. Tekanan dari kelompok kecil akan berpengaruh besar terhadap sebagian besar kelomlompok lain. Dalam pidato persuasive perlu diatur tentang adanya munculnya tanggapan positif dari kelompok-kelompok kecil untuk menggiring opinidan emosi masa yang lebih besar.
d. Sejumlah masa yang besar memiliki motivasi umum yang serupa, misalnya sejumlah besar guru, petani, buruh pabrik, dan lain-lainnya.
5. Pengembangan Aktivitas Berbicara bagi Siswa
Kemampuan berbicara dapat dikembangkan dengan berbagai teknik. Farris (1993) mengemukakan bahwa aktivitas berbicara dapat dilakukan dengan teknik-teknik sebagai berikut.
a. Melihat-Berbicara
Rancangan kegiatan yang dilalui adalah:
1) milih objek yang akan diamati, misalnya taman sekolah
2) Mengidentifikasi bagian-bagian dari objek tersebut, misalnya rumpun-rumpun tumbuhan, lampu-lampu, rerumputan, jalan di taman, warna-warni bunga, dan sebagainya.
3) Bertanya jawab dan mengomentari bagian-bagian objek yang telah teridentifikasi sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman siswa dan guru.
Contoh: Taman Sekolah
Di sudut kanan taman sekolahku tumbuh serumpun pohon palem yang sangat subur. Ada yang besar dan diapit oleh tetumbuahan palem lainnya yang lebih kecil. Daun-daunnya segar menghijau. Daun yang satu dan lainnya nampak bertmpang tindih saling seolah berebit sinar mentari. Pucuk-pucuknya nampak lebih muda hijaunya. Di bawahnya nampak tertutup bebatuan kerikil berwarna-wawarni.
Dua runpun bogenvil tumbuh berjajar didepan kelasku. Satu rumpun berbuna merah nermekaran. Dahan dan rantingnya cukup lebat, namun tak begitu nampak karena tertutup oleh daun. Rumpun yang lain menampakkan bentuk yang lain pula. Daunnya berwarna putih dengan senburat kehijauan. Bunga berwarna ungu mekar di sekujur ujung-ujungnya. Kedua rumpum itu nanpak kontras, namun serasi.
Jauh di ujung kiri tumbuh pohon mangga. Lebat daunnya sedang-sedang saja, tetapi nampak hujau dan subur. Buahnya banyak, bergelantungan, dan bahkan ada beberapa yang kemerah-merahan. Beberapa bunga anggrek terpapmang di bagian bawah batangnya. ……………… Dst
b. Menyimak-Berbicara
Sesuatu yang pantas disimak bagi siswa antara lain nyanyian, pidato, cerita (oleh guru atau dari kaset), iklan, dan sebagainya. Kegiatannya dapat dirancang sebagai berikut.
1) Memilih bahan simak yang sesuai.
2) Melakukan curah pendapat tentang berbagai hal yang terkait dengan bahan simak.
3) Melakukan aktivitas menyimak.
4) Mengidentifikasi bagian-bagian bahan simak.
5) Memberikan komentar dan tanya jawab tentang
Kegiatan pengembangan aktivitas berbicara dengan teknik ini dapat dilakukan sebagaimana yang terjadi pada teknik melihat-berbicara di atas.
c. Membaca-Berbicara
Pada umumnya di sekolah banak terdapat bahan bacaan, baik bacaan fiksi maupun nonfiksi. Bacaan-bacaan yang tergolong fiksi antara lain cerpen, novel, cergam, puisi. Dan naskah drama. Bacaan yang tergolong non fiksi antara lain buku-buku teks, majalah, dan karya ilmiah (karya ilmiah popular). Kegiatannya dapat dirancang sebagai berikut.
1) Memilih bahan bacaan.
2) Membaca bahan bacaan terpilih.
3) Mengidentifikasi gagasan-gagasan utama bacaan.
4) Mengomentari dan mengulas kembalai secara lisan berbagai gagasan sesuai dengan pengalaman dan pengetahuannya (skematanya).
d. Beraktivitas-Berbicara
Cukup banyak aktivitas yang dapat dilakukan di sekolah yang dapat merangsang tumbuhnya aktivitas berbicara, misalnya menjaga kebersihan kelas/sekolah, berkebun, memasak, membuat minuman ringan/jus buah, dan lain-lainnya. Rancangan kegiatanna dapat disusun sebagaimana yang terdapat pada teknik-teknik yang telah dipaparkan di atas.
C. Latihan
1. Lakukanlah aktivitas berpidato (formal atau nonformal) yang didasarkan pada teks.
2. Laksanakan aktivitas berbicara yabf dikembangkan dengan teknik:
a. menyimak-berbicara
b. melihat-berbicara
c. membaca-berbicara
d. beraktivitas-berbicara

Modul 4
Pengajaran Menulis SD
1. Hubungan dan Kontribusi Kompetensi lain
Kemampuan menulis merupakan kemampuan yang sangat kompleks. Banyak kompetenti lain yang berkuntribusi terhadap kemampuan menulis. Kompetensi –kompetensi tersebut, antara lain (a) menyimak, (2) berbicara, (3) membaca, dan mengamati.
a. Hubungan dan Kontribusi Menyimak
Menyimak dapat diartikan sebagai aktivitas penggunaan alat pendengaran secara sengaja yang bertujuan untuk memperoleh pesan atau makna dari apa yang disimak (Rofiuddin, 1996/1997). Kompetensi menyimak berhubungan erat dengan kompetensi lainnya, tidak terkecuali kompetensi menulis. Dari aktivitas menyimak akan diperoleh berbagai masukan, misalnya tata bunyi, kosa kata, istilah, bentuk kata, tata frasa, tata kalimat, dan berbagai informasi. Oleh karena itu Apa yang diperoleh dari aktivitas menyimak dapat digunakan sebagai bahan tulisan (karangan).
b. Hubungan dan Kontribusi Membaca
Membaca merupakan aktivitas memahami pesan atau makna yang terdapat dalam bahan cetak (Spodek dan Saracho, 1993). Dari aktivitas membaca bisa diperoleh kosa kata, istilah, tata frasa, tata kalimat, dan pesan atau makna. Pembaca yang baik akan menyadari bahwa pesan ang dikandung oleh teks tidak hanya bersifat literal (tersurat) melainkan juga bersifat implicit (tersirat). Hasil membaca dari pembeca yang baik akan lebih luas dan dalam dari ada pembaca yang kurang baik.
c. Hubungan dan Kontribusi Berbicara
Antara aktivitas membaca dan menulis terdapat hubungan yang erat. Bagi pembicara pemula, apa yang akan diuraikan dalan ceramah atau pidatonya terlebih dahulu ditulisnya secara cermat dan rinci. Sebaliknya, seseorang akan lebih mudah menuliskan sesuatu yang pernah dibahas atau yang pernah dibicarakannya. Sebagai contoh, setiap kegiatan diskusi biasanya disertai pula kegiatan menyusun resume hasil diskusi. Resume tersebut tentu dikembangkan dari apa yang telah dibahas dalam diskusi.
d. Kontribusi Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan/observasi dapat digunakan sebagai sumber dan bahan tulisan. Apabila diperhatkan dengan cermat, tulisan di majalah dan koran banyak bersumber dari apa yang telah diamati oleh sang penulis, misalnya peristiwa alam, lalu lintas, tiknik pengobatan, benda-benda langka, dan sebagainya. Pengembangan tulisan dengan sumber hasil pemngamatan dapat dilakukan di sekolah, misalnya pengamatan terhadap benda-benda di lingkungan sekolah (taman bunga, halaman sekolah, dan lain-lainnya).
Contoh:
1) Nonfiksi:
Taman Sekolahku
Taman yang indah terletak di sebelah kiri halaman sekolahku. Pagarnya terbuat dari kayu dan papan. Tinggi pagar lebih kurang satu meter. Papan-papan dipotong melancip dipasang rapi bagaikan geruji-jeruji di sepanjang tepi taman. Catnya berwarna-warni, yaitu merah, hijau, kuning, dan biru. Warna-warna tersebut berselang-seling antara jeruji yang satu dengan jeruji yang lain.
Pintu pagar dibentuk sebagai gapura kecil… dst.
2) Puisi
Taman Sekolahku
pagar berjerajak dengan jeruji warna-warni
tinggi semampai
merah, hijau, kuning, biru, dan ungu
gapura kecil menhiasinya
nusa indah berwarna merah
bunga bermekaran mengundang pesona
siapa lihat jadi terpana. dst.
2. Proses Pengembangan Tulisan
Menulis bukanlah pekerjaan sekali jadi. Aktivitas ini memerlukan proses. Apabila proses yang dilaluinya benar dan dilaksanakan secara konsisten, hasil tulisan akan lebih baik. Cox (1999) mengemukakan bahwa menulis perlu dilakukan melalui proses sebagai berikut.
a. Pramenulis
Aktivitas yang dilakukan pada tahap ini antara lain mengingat kembali berbagai pengalaman, menemukan sumber-sumber penulisan, menemukan dan menyusun gagasan-gagasan (kerangka), menentukan jenis tulisan, mengenali calon pembaca, dan lain-lainnya.
b. Menulis Draf
Memulai menulis sengan berpedoman pada kerangka yang telah disusunnya, pada tahap ini kerangak yang telah jadi pun dapat diubah atau disesuaikan susunannya, apabila diperlukan. Hasil tulisan pada tahap ini masih merupakan draf atau tulisan yang masih memerlukan perbaikan-perbaikan.
c. Revisi
Pada tahap ini penulis melakukan revisi, baik dalam hal struktur kalimat, penggunaan kata/istilah, organisasi gagasan, dan penambahan maupun reduksi gagasan.
d. Mengedit
Pada tahap ini penulis tingal melakukan pembenahan dalam hal ukuran dan bentuk huruf, penataan bentuk kata, pengaturan gambar (apabila diperlukan), dan pengaturan kolom.
e. Publikasi
Publikasi hasil tulisan dapat dilakukan melalui penerbitan, majalah dinding, pembanaan di depan kelas.
3. Latihan
1. Jelaskan hubungan kompetensi menulis dengan kompetensi-kompetensi lain dalam bahasa!
2. Kembangkan sebuah tulisan nonfiksi yang bersumber dari:
a. hasil menyimak
b. hasil pengamatan
c. hacil membaca
d. proses dan hasil aktivitas
3. Susunlah sebuah puisi yang merupakan deskripsi suatu benda, misalnya bunga!


Modul 5
Apresiasi Sastra Indonesia
1 Pengertian Puisi
Pada hakikatnya puisi adalah ungkapan bahasa yang terikat. Keterikatan itu meliputi paralelisme, metrum, rima, pola bunyi, dan sebagainya. Namun, batasan ini masih sangat abstrak dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.
Berbagai pendekatan dilakukan untuk memberikan batasan puisi. Pendekatan yang sering digunakan adalah pendekatan perbandingan antara prosa dengan puisi, pendekatan didaktis, pendekatan emotif, pendekatan psikolinguistik, dan sebagainya. Slamet Mulyana misalnya, memberikan batasan puisi berdasarkan pendekatan psikolinguistik. Menurut Mulyana dalam Semi (1993:93) puisi adalah sintesis dari berbagai peristiwa bahasa yang telah tersaring semurni-murninya dan berbagai proses jiwa yang mencari hakikat pengalamannya, tersusun dengan sistem korespondensi dalam salah satu bentuk.
Herbert Read, seorang kritikus sastra Inggris, menggunakan pendekatan perbandingan antara prosa dengan puisi bertitik tolak pada bentuk organik puisi. Read mengemukakan, bahwa puisi lebih bersifat intuitif, imajinatif, dan sintetik jika dibandingkan dengan prosa yang lebih bersifat logika, konstruktif, dan analitik (Semi, 1993:94).
Sementara itu Altenbernd dalam Pradopo (1987:5) menyatakan, bahwa puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum). Namun, pengertian ini menurut Pradopo kurang tepat jika diterapkan dalam perpuisian di Indonesia, karena pada umumnya puisi Indonesia tidak terbentuk dari bahasa bermetrum.
2 Jenis Puisi
Dalam khasanah sastra Indonesia modern dikenal berbagai jenis puisi. Ditinjau dari periodisasi kelahiran puisi Indonesia, dikenal dua istilah, yaitu puisi lama dan puisi baru. Sering pula dikatakan adanya puisi tradisional dan puisi modern. Puisi tradisional misalnya: syair, gurindam, pantun, soneta, dan sebagainya. Sedangkan puisi modern lebih dikenal dengan jenis puisi bebas.
Dilihat dari segi gaya penulisannya, puisi dibagi atas dua jenis, yaitu puisi diaphaan (polos) dan puisi prismatis (membias). Puisi diaphaan adalah puisi yang menyatakan suatu maksud dengan sedikit sekali memakai lambang-lambang atau simbol-simbol. Kata-kata yang digunakan adalah kata-kata yang denotatif, yaitu kata-kata yang masih mendukung arti yang dikenal secara umum dalam pemakaian sehari-hari. Pada umumnya, puisi tradisional banyak yang dimasukkan ke dalam kategori puisi diaphaan. Misalnya pada puisi Gunawan Muhammad di bawah ini.
Di Beranda ini Angin Tidak Kedengaran Lagi
Di beranda ini angin tidak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata; Pergilah sebelum malam tiba
Kudengar hari tahu ke mana lagi akan tiba

Di piano bernyanyi baris dari Rubayat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama, sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
Bersiaplah kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
Mengekalkan yang esok mungkin tak ada

Sedangkan puisi prismatis adalah puisi yang di setiap pengungkapan katanya disertai dengan lambang-lambang atau simbol-simbol, kiasan-kiasan, dan dengan kalimat yang tidak langsung menyatakan suatu maksud. Kata-kata yang dipakai pada umumnya adalah kata-kata konotatif. Lihat puisi Pusat karya Toto Sudarto Bachtiar di bawah ini.
Pusat

Serasa hidup yang terbaring mati
Memandang musim yang mengandung luka
Suara apa kisah sebuah dunia berhenti
Padaku, tanpa bicara

Diri mengeras dalam kehidupan
Kehidupan mengeras dalam diri
Dataran pandang meluaskan padang senja
Hidupku dalam tiupan usia

Tinggal seluruh hidup tersehat
Dalam tangan dan jari-jari ini
Kata-kata yang bersayap bisa menari
Kata-kata yang berjuang tak mau mati

3 Unsur-Unsur yang Membangun Puisi
Menurut Marjorie Boulton (1979), unsur yang membangun puisi dibagi menjadi dua bagian, yaitu bentuk fisik dan bentuk mental. Bentuk fisik terdiri atas nada, larik puisi, irama, sajak, intonasi, enjambemen, pengulangan, dan perangkat kebahasaan lainnya. Sedangkan bentuk mental sebuah puisi terdiri atas tema, urutan logis, pola asosiasi, satuan arti yang dilambangkan, dan pola-pola citra dan emosi.
Bentuk fisik dan mental sebuah puisi pada dasarnya dapat dilihat sebagai satu kesatuan dalam tiga lapisan. Ketiga lapisan tersebut adalah (a) lapisan bunyi, (b) lapisan arti, dan (c) lapisan tema.
Lapisan bunyi yaitu lapisan lambang-lambang bahasa sastra. Lapisan ini dinamakan bentuk fisik puisi. Lapisan arti yaitu sejumlah arti yang dilambangkan oleh struktur atau lapisan permukaan yang terdiri atas lapisan bunyi bahasa. Lapisan tema yaitu suatu “dunia” pengucapan karya sastra, sesuatu yang menjadi tujuan penyair, atau sesuatu efek tertentu yang didambakan penyair. Lapisan arti dan tema inilah yang dapat dianggap sebagai bentuk mental sebuah puisi.
Apabila berbicara mengenai bunyi dalam sebuah puisi, maka pemahaman istilah yang harus diperdalam adalah pemahaman terhadap rima, irama, dan ragam bunyi.
Rima, mengandung berbagai aspek, meliputi asonansi atau runtun vokal, aliterasi atau purwakanti, rima akhir, rima dalam, rima rupa, rima identik, dan rima sempurna. Irama, yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat-lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama disebabkan aksentuasi dan intonasi serta tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral. Ragam bunyi meliputi euphony, cacopony, dan onomatope.
Sesungguhnya, ketiga lapisan tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketiganya memiliki hubungan yang erat dan saling melengkapi. Sebagai satu totalitas amatlah sulit membicarakan unsurnya satu persatu, kecuali untuk kepentingan analisis akademik, pembicaraan bagian per bagian dapat dilakukan dengan cara yang sangat hati-hati.
4 Diksi
Diksi berarti pemilihan kata. Pemilihan kata dan pemanfaatan kata merupakan aspek yang utama dalam dunia puisi, sehingga penyair dalam membuat puisi akan memilih kata yang cocok untuk mengungkapkan suatu kejadian atau perasaannya. Oleh karena itu, dalam memilih kata, perlu diketahui makna kata yang sebenarnya. Dalam istilah sastra ada kata yang berjiwa, yaitu kata yang dapat membawa suasana tertentu bagi penyair maupun bagi pembacanya. Pengetahuan tentang kata berjiwa ini disebut stilistika. Sedangkan pengetahuan tentang kata-kata sebagai satu kesatuan yang satu lepas dari yang lain disebut leksikografi. Setiap penyair memiliki cita rasa tersendiri dalam memilih kata.
Perhatikan puisi di bawah ini:
Penerimaan

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin engkau enggan berbagi
(Chairil Anwar)

Pilihan kata yang dilakukan oleh penyair begitu cermat dan memikat. Penyair menggambarkan perasaan cintanya kepada seseorang melalui kata-kata yang benar-benar mampu mewakili perasaannya. Misalnya, dengan memilih bak kembang sari sudah terbagi, penyair menggambarkan seseorang yang sudah berbeda dengan dulu. Cita rasa puisi di atas juga dapat dilihat pada bait akhir puisi tersebut yaitu Sedang dengan cermin engkau enggan berbagi. Di sini pembaca akan dihadapkan pada bentuk interpretasi yang mungkin berbeda antara pembaca yang satu dengan pembaca yang lain.
Diksi atau pilihan kata yang dilakukan oleh penyair sesungguhnya merupakan salah satu kekuatan dari sebuah puisi. Penyair akan melakukan pilihan kata sesuai dengan karakter puisinya. Diksi dalam puisi protes tentunya akan berbeda dengan diksi dalam puisi cinta. Perbedaan itu dapat dilihat dari istilah yang digunakan, misalnya kata-kata yang keras dan kata-kata yang lembut.
5 Kepuitisan
Puisi yang dibuat oleh penyair diharapkan akan mampu memberikan efek perasaan tertentu bagi pembacanya. Efek yang dimaksudkan di sini bukan sekadar bunyi bahasa yang indah, diksi yang menyenangkan, bahasa yang segar, namun lebih dari itu, efek itu mencakup keseluruhan bagian puisi tersebut, yaitu aspek fisik dan aspek mental puisi. Dengan bahasa yang indah dan tema yang manusiawi, puisi-puisi itu akan dapat diterima oleh masyarakat pembacanya secara terus menerus. Puisi-puisi Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Emha Ainun Najib, dan sebagainya merupakan puisi-puisi yang memiliki syarat seperti di atas.
Kepuitisan merupakan sifat puisi, sehingga puisi dapat diterima oleh pembaca paling tidak harus memiliki ciri: (a) adanya keaslian, (b) kejelasan, (c) memukau, (d) sugestif, (e) cara berpikir yang runtut dan bercerita yang menarik.
Orisinalitas atau keaslian sebuah puisi akan menempatkan penyair dalam konteks yang dihargai. Ini berarti, penyair harus selalu menciptakan kebaruan-kebaruan dalam puisinya, baik dalam hal isi maupun dalam hal bentuknya. Seorang penyair yang melakukan tindakan plagiat (disengaja maupun tidak) akan dikucilkan dalam masyarakatnya. Oleh karena itu, keaslian sangat penting artinya bagi sebuah puisi. Adakalanya karya seorang penyair memiliki kemiripan dengan karya penyair yang lain. Ini mungkin terjadi karena adanya pengaruh bahan bacaan penyair tersebut, sehingga secara tidak sadar penyair memilih kata yang sama atau hampir sama. Sepanjang hal ini tidak disengaja dan tingkat kemiripan itu tidak dominan masih dapat diterima. Akan tetapi apabila tingkat kemiripannya sangat banyak, maka ini perlu dipertanyakan.
Kejelasan sebuah puisi akan memberikan pemahaman pembaca secara cepat. Ketidakjelasan atau kekaburan pengungkapan akan dapat mengaburkan makna puisi secara utuh. Kejelasan itu dapat dilakukan dengan cara pemilihan kata yang tepat, perbandingan perumpamaan, metafora-metafora yang tepat, pemanfaatan bunyi yang evokatif dan hiasan-hiasan bunyi, dan adanya kesatuan imaji. Disiplin kesadaran puitik akan mampu menciptakan suasana kepuitisan bagi seorang penyair dalam menciptakan karyanya.
Sebuah puisi haruslah memukau dalam konteks pertunjukan pembacaan puisi maupun ketika puisi itu dalam bentuk teks. Di samping itu, puisi haruslah dapat menyenangkan perasaan dan memiliki daya tarik yang hebat. Untuk dapat memukau puisi, penyair bisa melakukan permainan bunyi, artinya puisi itu memiliki emphony (bunyi indah), persajakan, dan irama (ritme dan metrum). Pemanfaatan gaya bahasa yang tidak sebagaimana lazimnya akan dapat membuat puisi itu terasa berbeda dengan karya sastra yang lain. Selain itu, enjambemen atau penyusunan larik-larik puisi harus dilakukan sedemikian rupa sehingga antara satu bagian dengan bagian yang lain terkait dengan baik.
Puisi itu harus sugestif, yaitu dapat menimbulkan pembayangan atau asosiasi yang beruntun sehingga menggiring pembaca kepada situasi yang asyik dan menimbulkan dorongan untuk membacanya secara tuntas. Puisi (prosa lirik) yang ditulis oleh Linus Suryadi AG yang berjudul Pengakuan Pariyem, misalnya memberikan sugesti yang sangat kuat karena dari awal sudah dibangun sugesti-sugesti hingga pada akhir “ceritanya”. Contoh puisi lainnya adalah Mencari Bapa karya Rendra.
Yang harus dimiliki oleh penyair adalah cara berpikir runtut dan bercerita yang menarik. Sebuah puisi yang ditulis tanpa menghiraukan keruntutan berpikir akan menghilangkan nilai kepuitisannya. Jika puisi sudah kehilangan nilai kepuitisannya, maka puisi itu akan sangat hambar, tidak berjiwa, dan seperti teks-teks pidato.
6 Kegiatan
Diskusi Kelompok
1. Analisislah puisi Chairil Anwar berjudul Penerimaan berdasarkan: lapisan bunyi, lapisan arti, dan lapisan makna!
2. Jelaskan pula beberapa diksi puisi tersebut!
7 Latihan
1. Jelaskan pengertian puisi berdasarkan pemahaman saudara!
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan lapisan bunyi, lapisan arti, dan lapisan tema dalam puisi! Berilah contoh!
3. Bandingkan puisi diaphaan dan puisi prismatis! Berilah contoh!
4. Jelaskan mengapa diksi sangat penting bagi sebuah puisi! Berilah contoh!

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin.1991. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru.
Anderson, S.P. 1972. Language Skill in Elementry Education. New York: McMillan.
Arifi, E.Z. 1990. Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Surat Dinas. Jakarta: PT Media Tama Sarana Perkasa.
Burns,C.P. Betty, R.D. & Elinor, R.P. Reading in Todays Elementry Scools. Boston: Houghton Mifflin Company.
Cullinan, B.E. 1989. Literature and the Child. San Diego: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
Depdikbud. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Downing, J. & Leong, K.C. 1982. Psychologi Design of Reading. New York: McMillan Publishing, Inc.
Eanes, R. 1997. Content Area Literasy: Teaching for Today and Tomorrow. New York: Delmar Publishers
Farris, P.J. 1993. Language Arts: A Proces Approach. Iowa. Brown & Benchmark Publishers.
Hartoko, Dick. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Jogjakarta: Kanisius.
Jalongo, R.M. 1992. Early Childhood Language Arts. Boston: Allyn & Bacon.
Lipson, M.Y. & Wixson, K.K. Assessment and Instruction of Reading Disability: An Interactive Approach. New York: Harper Colins Publishers, Inc.
Mason, J.M. 1989. Reading and Writing Connctions. Boston: Allyn and Bacon.
McNeil, J.P. 1992. Reading Comprehension. Los Angeles: Harper Colins Publishers.
Pradopo, Rachmad Djoko.1989. Pengkajian Puisi. Jogjakarta: Gajah Mada University Press.
Selden, Raman. 1985. A Reader Guide to Contemporary Literary Theory. Harvester “ Wheatsheaf.
Semi, Atar. 1993. Anatomi Sastra. Padang. Angkasa Raya.
Situmorang, B.P. 1980. Puisi dan Metodologi Pengajarannya. Ende: Nusa Indah.
Soedjito. 1986. Kalimat Efektif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Spodek, B. & Saracho, N.O. 1984. Right from the Start: Teaching Children Ages Three to Eight. Boston: Allyn and Bacon.
Syafie, Imam. 1999. Pembelajaran Membaca di Kelas-kelas Awal. Malang: Universitas Negeri Malang.
Teeuw, A. 1985. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya
Tompkins, E.G. 1991. Language Arts: Content and Teaching Strategies. New York: McMillan International Publishing Group.
Wellek, Rene & Austin Warren. 1956. Theory of Literature. New York: A Harvest Book Barout Brace & World Inc.

{http://hrbrata.blog.plasa.com/2008/09/27/bahasa-indonesia-sekolah-dasar/}










0 komentar: