My Menu :

Klik 'Others' untuk mendownload konten-konten keren

Senin, 04 Mei 2009

Elizza Diawia Radista

Aku memeluk tak semua tubuhnya, hanya separuh, itupun mungkin tak cukup. Hangatnya beda, tak seperti yang lain. Ada aroma mawar pekat yang sangat kuat menaungi semua pori-pori tubuhnya. Harum, wangi, semerbak pesona yang tertangkap oleh syaraf ku. Dia menarik, sangad menarik bahkan, aku mengagumi cara dia bernafas.

Aku mengikuti jejaknya sebelum dia pulang. Tanpa balutan kulit pembungkus telapak kaki. Menapak di hamparan pasir yang ku rasa terlalu kotor untuk kaki cantiknya. Namun, pasir nista itu mulia karnanya. Dia mengangkat nilai estetika dari alam dunia ini. Menularkan keindahan yang dia miliki untuk kemudian dinikmati oleh semua yang ada disekelilingnya.

Aku melambaikan tangan ku dari balik batu karang besar di sudut jalan menuju rumahnya. Dia tak melihat, dan ku harap tak kan melihat lambaian tangan ku. Biar aku yang memaknai sendiri apa yang ku kirim lewat jemari ku yang melambai untuk memujanya. Tak perlu dia tau betapa sebenarnya kuku-kuku ini ingin cantik seperti kuku yang dia punya. Dan tak akan dia tau jika batu ini tak berkhianat pada apa yang telah ku janjikan sebelumnya.

Aku mengawal keberangkatannya menuju tempat tidur. Menyimak dari jauh, saat dia merebahkan dirinya di sana. Dia rebah, namun tak begitu dengan pesonanya yang tetap berdiri bagaimanapun dan apapun yang terjadi pada alam luar. Dia tak terpengaruh, dia lah pengaruhnya.

Aku harus pergi, saat aku masih ingin menunggunya kembali. Melambaikan tangan dan melepas tidurnya. Aku masih tetap ingin menjadikannya fantasi sebelum tidur ku. Andai saja dia tak melepas apa yang dia punya. Aku takkan pergi...

0 komentar: