My Menu :

Klik 'Others' untuk mendownload konten-konten keren

Senin, 20 April 2009

Kartini Sore Ini

Hari kartini, hari ini, 21 April. Hari dimana semua perempuan memperingati pejuang emansipasi mereka, R.A Kartini. Dulu, sebelum Kartini, wanita bukanlah siapa-siapa di mata kaum adam. Mereka hanya ibu untuk sang anak, pelayan di rumah, pemuas nafsu di ranjang.

Jika ambo boleh sedikit berpendapat, kartini bukanlah satu-satunya pejuang emansipasi. Karna jauh sebelum kartini, MUHAMMAD S.A.W sudah berkali-kali mengingatkan bahwa wanita itu tinggi, wanita itu mulia, dan wanita itu hebat. Surga di bawah telapak kaki ibu mu, hormati ibumu, selalu minta restu pada orang tua mu, namanya orang tua ya udah pasti ayah dan ibu dong ya. Namun mengapa Kartini? Mengapa Kartini yang dijadikan Icon emansipasi wanita? Oke, tak masalah. Namun jangan melupakan, bahwa agama mu (ISLAM) juga telah melakukan ini jauh sebelum kartini.

Sekarang ambo ingin mengulik tentang emansipasi itu sendiri. Ambo pernah berkenalan dengan seorang wanita. Dia cantik, tinggi, putih, mulus, aduhai, geboy, asoy, dan semua nilai plus lainnya. Namanya juga kenalan, otomatis ambo akan banyak bertanya agar bisa kenal gimana kepribadian sang wanita ini. Nah, setelah berpanjang lebar, banyak hal yang kita bicarakan, dia mengangkat kata emansipasi. Ambo tertarik dengan kata ini, entah mengapa Ambo langsung fokus pada topik ini. Ambo mulai bertanya tentang pendapat dia mengenai emansipasi wanita. Ambo buat dialog nya saja lah ya, biar lebih gampang menggambarkannya.oke...oke...

Ambo : Emansipasi menurut kamu?
Dia : Persamaan hak antara wanita dan laki-laki, tak ada lagi pemandangan miris tentang wanita. Wanita juga bisa berada di tempat dimana laki-laki berada.

Ambo : Tak ada batasan antara wanita dan laki-laki?
Dia : Lho, wanita itu juga kuat, jadi batasan apa lagi?

Ambo : Oke...Kekuatan apa yang wanita punya?
Dia : Coba bayangkan, berapa besar pengorbanan wanita saat mengandung. Kemana-mana dia bawa perut besarnya. Itu berat lho.

Ambo : Iya, ambo bisa bayangkan. Kalo itu kan udah banyak yang bilang seperti tadi. Ambo mau tanya konsep emansipasi itu menurut pikiran kamu sendiri.
Dia : Wanita layak mendapat hak yang sama dengan laki-laki.

Ambo : Bebicara mengenai hak yang sama. Bagaimana dengan kewajiban, apa juga sama?
Dia : Tergantung kewajibannya dulu.

Ambo : Lho? Kok bisa gitu? Persamaan hak juga berarti persamaan kewajiban dong. Ambo orang Indonesia, berhak mendapat jaminan hukum,berhak mendapat pendidikan, dan berhak mendapat kehidupan yang layak. Ambo sebagai orang Indonesia, berkewajiban untuk mentaati semua perundang-undangan dan hukum yang ada di Indonesia. Kamu juga seperti itu. Itu kalau kita bicara mengenai hak dan kewajiban sebagai warga negara Indonesia. Sekarang persamaan hak seperti apa yang kamu mau?
Dia : Persamaan hak seperti, wanita juga berhak menentukan keputusannya sendiri. Wanita juga berhak masuk dunia kerja. Wanita juga berhak menjadi pemimpin. Wanita juga berhak berbicara menyampaikan pendapatnya.

Ambo : Ambo rasa wanita sudah mendapatkan semua yang kamu mau hari ini.
Dia : Belum. Wanita masih tetap diperintah sama suaminya. Wanita masih tidak bisa menentukan keputusan dalam keluarganya. Wanita masih belum banyak bicara hari ini.

Ambo : Hahahahaha...Oke, jadi menurut kamu wanita belum mendapat persamaan hak dalam rumah tangganya?
Dia : Yup..

Ambo menyudahi pembicaraan tentang emansipasi di sana. Karna Ambo tau, kalo ambo lanjutkan bakal buang-buang pulsa. Seperti inikah emansipasi yang dituntut seorang wanita itu?

Ambo mau berpendapat lagi, ambo menyetujui dan sangat mendukung emansipasi itu sendiri. Tapi tak lah semua hal bisa disamakan antara wanita dan pria. Terkadang, bagi wanita, emansipasi itu selalu dijadikan alasan untuk memberontak. Emansipasi selalu dijual untuk mendapatkan pemuasan yang sifatnya pribadi. Jangan seperti ini juga, ambo rasa Kartini pun tak lah menggagas emansipasi yang seperti ini. Tetap harus ada batasan antara hak kewajiban wanita dan pria. OwKeeeh....




0 komentar: